Petrichor: Dalam Penantian Panjangku

hujan

Bak tanaman yang mengeluarkan minyaknya demi menyambut kedatangannya
Bak awan yang menunggu digerakkan angin untuk bisa saling beradu
Tak begitu banyak orang yang mengerti dan bahkan peduli
Tapi aku menunggunya dan menantinya dalam penantian panjangku

Terik matahari memang sering menyengat, bahkan membuat daun daun hijau itu menguning
Bukan hanya menguning, namun menjadikanya rapuh, lusuh, dan terjatuh
Namun aku menyukai ketegarannya, keihlasannya melepaskan miliknya demi menjadikannya lebih baik
Seperti aku belajar mengapa terkadang ilmu itu pahit dan membuat kita jatuh dengan nilai hasil capaiannya
Namun bukan penyesalan berkepanjangan yang aku pelajari, aku belajar dari pohon yang dengan lapang melepaskan daunnya, daunnya yang jatuh ke tanah namun pada akhirnya menjadi pupuk baginya untuk menjadikannya tumbuh lebih tinggi dan kuat.
Aku mengikhlaskan segala perjuangan bahkan kegagalanku selama ini, karena aku percaya darinya dan dengannya aku akan bisa tumbuh lebih tinggi dan kuat

Bukan, bukan daun itu yang ingin aku ceritakan
Aku hanya saja ingin bercerita kemarau yang sangat panjang
Begitupun dengan penantianku yang sangat panjang pula

Minyak-minyak dari tanaman selama musim kering itu dilepaskannya ke udara
Ia masih tetap menanti, kedatangannya yang masih tak kunjung datang
Seperti aku yang rela melepaskan semua yang mungkin kurasa indah namun hanya indah semata
Aku yang masih sabar menantinya, kedatangannya yang masih tak kunjung datang

Ketika awan itu ditiup untuk bergerak dan beradu
Ketika itu pula minyak-minyak berharga yang diproduksi actinomycetes itu juga beradu di udara
Mereka saling beradu, bersatu bagai seorang kekasih yang saling merindu
Hingga akhirnya ia datang, datang dengan membawa sejuta riang dan mengingatkan berjuta kenangan

Ya, iya adalah hujan
Hujan yang dinanti dalam musim kering tahun 1964
Ia tidak datang sendiri, ia datang dengan sejuta wangi yang indah
Petrichor namanya, sebuah senyawa aromatik yang beraroma menyenangkan
Ia adalah aroma hujan ketika pertama kali datang dalam penantian musim kemarau panjang

Seperti itulah aku menantinya,
Menanti dalam kekeringan dan ketakutan untuk bisa bertahan dalam perjuangan penantian ini
Menjadi sarjana mungkin begitu gampang bagi sebagian orang, tapi bagiku itu adalah sebuah perang yang tak pernah bisa tervisualisasikan detail-nya
Seperti itulah aku menantinya

Dan ketika petrichor itu datang dengan aroma penuh kesenangan
Seperti itu pula lah perasaan yang ku bayar dalam penantian panjang di musim kering itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s