Hidup dan Berpetualang

Saat kecil, aku termasuk anak rumahan; jarang bepergian atau berkegiatan di luar. Sebagai anak terakhir di keluarga, aku juga cukup merasa dimanjakan dengan segala apa yang ku minta, kemudian diada-adakan, agar aku lebih betah di rumah daripada main di luar. Padahal kedua orang tuaku bukan lah termasuk orang yang sangat berada.

Selepas masa SMA, tibalah waktuku untuk merantau sendirian. Jarang berada jauh dari keluarga awalnya membuatku sering merasa homesick dan selalu ingin pulang ke rumah. Namun siapa sangka, seiring proses hidup yang terus berjalan, jadilah aku seorang petualang. Di perantauan, aku tak begitu nyaman berdiam lama di kosan, terlebih setelah aku tergabung dalam sebuah organisasi yang produktif dan banyak sekali program – programnya. Aku di kosan hanya untuk sekadar tidur, sisanya berkegiatan di luar.

Mulai dari sana, aku pun semakin berani, bahkan berani menuliskan impian – impian untuk menjelajahi lebih banyak lagi tempat – tempat baru yang tentunya semakin jauh dari rumah. Hingga selama berstatus mahasiswa awal di tingkat 1 dan 2, aku jadi pernah memiliki pengalaman tinggal semingguan di kota – kota luar Jawa Barat. Tiga hari sampai semingguan berkegiatan di Solo, Jogja, Surabaya, Kediri, Malang, Bali, hingga Lombok.

Menjelang tahun kelulusan, jiwa petualangku pun semakin terasah dengan berbagai kesempatan yang datang kepadaku untuk bisa bepergian ke luar Indonesia. Tak tanggung hanya beberapa hari saja, kegiatan di luar negeri pun biasanya memakan waktu beberapa minggu hingga bulan. Aku sempat lomba di Malaysia, Thailand dan Jepang, hingga pertukaran pelajar ke Amerika Serikat. Sungguh hal – hal yang tak pernah kuduga sebelumnya, terlebih mengingat masa kecilku yang lebih sering ku habiskan di dalam rumah saja.

Hidup dan petualangan tersebut, ternyata belum lah berakhir. Selepas menerima toga dan lulus dari universitas, garis takdir membawaku untuk bekerja berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya di Indonesia. Setahun aku bekerja di pedalaman Pulau Kalimantan, sempat beberapa bulan di Pulau Sumatera dan mencicipi udara segar desa kaki Bukit Barisan, kemudian kembali ke ibu kota, dan kini bekerja di Bali. Orang lain mungkin melihat bahwa hidupku teramat sangat menyenangkan : berpetualang – berpetualang – dan berpetualang.

Namun tahukah kamu, jika hidup dan terus berpetualang juga memiliki beberapa hal yang pros dan cons. Dalam tulisan ini, aku ingin sekali berbagi denganmu, tentang apa saja hal yang menarik dan menantang dalam melewati hidup yang penuh petualangan.

Continue reading

Advertisements

Kosan Murah di Bali, Emang Ada?

Hi, aku Je dan sejak awal Maret 2018, aku dipindahtugaskan kerja di salah satu pulau impian banyak orang untuk tinggal yaitu Bali. Setelah sekitar dua mingguan di awal perpindahanku ke Bali, aku tinggal di dormitory karyawan di salah satu resort bintang 5, kini aku tinggal di sebuah kosan imut dengan harga yang cukup terjangkau.

Mungkin sama seperti yang kamu bayangkan, aku juga sudah sempat punya pemikiran bahwa biaya hidup di Bali akan sangat mahal, salah satunya biaya tempat tinggal (kosan). Tapi apakah benar biaya tempat tinggal di Bali sangat lah mahal?

Jawabannya bisa IYA, bisa juga TIDAK. Jika kamu baru memutuskan untuk berkarir di Bali dan takut tidak bisa menemukan kosan murah, tenang saja di Bali sendiri masih ada cukup banyak kosan dengan harga yang relatif murah, khususnya di Daerah Jimbaran.

Jimbaran terletak di Bali bagian selatan. Letaknya di selatan Bandara I Gusti Ngurah Rai, hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit perjalanan dari bandara. Merupakan kawasan wisata pantai, Jimbaran dikelilingi oleh banyak sekali hotel – hotel dan resort mulai dari bintang 3 sampai bintang 5. Oleh karena itu, banyak sekali orang akan beranggapan bahwa biaya tinggal di Jimbaran pasti akan sangat mahal. Namun nyatanya tidak juga.

Selain dilingkupi banyak bangunan hotel mewah, Jimbaran juga memiliki setidaknya dua lokasi kampus ternama di Bali, yakni Universitas Udayana dan Politeknik Negeri Bali. Hal ini yang membuat Jimbaran juga memiliki cukup banyak kosan atau kontrakan dengan budget mahasiswa. Biasanya letak kosan tersebut pun tidak akan jauh dari lokasi kampus, jadi membuatmu tidak susah untuk menemukan tempat makan atau hiburan.

Berapa sih kisaran kosan budget mahasiswa di Jimbaran? Kisarannya adalah Rp. 500.000 sampai Rp. 1.000.000/bulan. Harga kosan tersebut biasanya selaras dengan luas kamar dan isi (fasilitas barang – barang) di kamar tersebut. Kosan dengan harga Rp. 500.000/bulan atau dibawahnya biasanya adalah kosan kosongan dimana kamu harus menyicil sendiri membeli barang – barang perlengkapan kamar, seperti kasur dan sebagainya. Oh iya, kosan dengan harga segini juga biasa memiliki kamar mandi bersama yang terpisah dengan kamarmu nantinya.

Kosan dengan harga di atas Rp. 700.000/bulan biasanya kamu akan mendapatkan kamar dengan kamar mandi di dalam dan perlengkapan sederhana seperti kasur dan lemari. Aku mungkin termasuk orang yang beruntung karena bisa mendapatkan kosan dengan harga di bawah Rp. 700.000/bulan dengan kamar yang cukup luas dengan perabotan sederhananya, memiliki kamar mandi dan wastafel di dalamnya, selain itu juga harga tersebut sudah termasuk biaya listrik dan air bulanan.

IMG_20180304_172240

Tampak kamar pada saat sebelum di tempati

 

IMG_20180304_172250

Kosan imut ini juga memiliki wasfatel dan kalau kamu suka masak, bisa dipakai tempat masak

Ohiya, yang aku suka dari kosan  di Bali adalah halamannya. Sebagaimana konsep rumah Bali juga yang memiliki halaman luas di tengah – tengah, maka hampir semua kosan juga selalu memiliki space halaman bersama selain halaman kamarmu sendiri. Selain sebagai tempat parkir, space ini juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan bersama dengan anak – anak kosan lainnya, seperti bakar  ikan yang pernah aku lakukan dengan pemilik kosan dan beberapa tetangga kosan lainnya.

IMG_20180304_172434

Spot yang ku suka dari banyak kosan di Bali adalah halamannya, begitu pun dengan halaman di kosanku

Jadi masih ragu untuk memulai karirmu di Bali? Atau menjadi lebih semangat untuk merantau dan menetap di Bali?

ps: buat kamu yang berencana tinggal di Bali dan mau cari tempat tinggal, jangan lupa untuk menanyakan detail terkait fasilitas tempat tinggalmu, apakah biaya sewa sudah termasuk listrik dan air, karena untuk di Daerah Jimbaran sendiri yang lokasinya sangat dekat dengan pantai – pantai membuat daerahnya cukup kering dan sedikit air. Sehingga biaya kebutuhan bulanan untuk air pun mesti dipertimbangkan. Semoga bermanfaat!

Kerja di Bali? Gak Seru!

Hi, namaku Jajang Jaelani, biar lebih ringkas sebut saja Je. Akhir Februari 2018, aku memulai bekerja di tempat kerja baru; sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Florikultura yang kantor pusatnya berada di Jakarta. Hanya seminggu bekerja di Jakarta, aku mendapatkan tawaran untuk dipindah kerja ke Bali. Sebagai anak yang menyukai hal – hal baru, termasuk tantangan baru, akhirnya tanpa berpikir panjang aku terima tawaran tersebut.

Oh iya, sebelumnya aku juga pernah ke Bali di tahun 2015, namun hanya untuk sekadar transit liburan sebentar sebelum mengikuti kegiatan mahasiswa di Mataram, Lombok. Jadi jujur saja, hingga saat menerima tawaran pindah tersebut pun, aku tak memiliki banyak pengetahuan tentang Bali dan seluk beluk isinya.

Aku juga tak memiliki keluarga dekat atau bahkan sahabat yang tinggal dan bekerja di Bali. Modal nekat. Tak banyak barang yang ku bawa untuk menetap lama di sana, hanya sebuah tas punggung 35L berisikan pakaian dan dokumen – dokumen.

Awal Maret 2018 adalah waktu dimana aku kembali berada di Bandara I Gusti Ngurah Rai setelah melewati penerbangan di pagi yang cerah dengan suguhan pemandangan garis tegas hijaunya punggung pegunungan, tebing – tebing tinggi menjulang menghadang samudera, yang kemudian berganti hamparan pantai luas nan memanjang. Aku merasa beruntung!

Exif_JPEG_420

welcome back to Bali!

Di lain sisi, sebagai karyawan baru (pindahan) di Bali, aku sempat mendapatkan fasilitas tinggal satu minggu di dormitory karyawan yang terletak di tengah resort ternama di daerah Jimbaran. Dari sini lah, cerita petualangan hidupku di Bali dimulai.

Satu minggu pertama, rasanya terasa cukup berat; terlebih untuk masalah adaptasi. Lokasi dormitory yang jauh dari dan ke tempat umum membuatku terasa terisolir. Jarak dari dormitory ke kantor yang juga cukup jauh pun membuatku mesti diantar-jemput setiap harinya. Beruntung, saat itu ada salah satu rekan yang bersedia membantu, sampai setidaknya aku punya kendaraan entah itu nanti menyewa atau membeli sendiri.

Tantangan lainnya buatku sebagai seorang muslim minoritas adalah sholat. Awalnya, aku sempat kikuk dengan perbedaan agama yang ada. Hingga aku tak berani bertanya, apakah ada yang muslim juga, sehingga aku tahu dimana tempat sholat berada. Akhirnya pun, selama satu minggu itu pula, aku sering kali menggabungkan sholat pada waktu – waktu dimana aku bisa melakukannya sendirian di kamar; benar – benar menjadi sebuah pergejolakan batin yang cukup luar biasa saat itu.

Memang, ini bukanlah kali pertama aku berada pada situasi seperti ini, karena saat aku tinggal di luar negeri untuk mengikuti sebuah program pertukaran pelajar pun, aku sempat mengalami dan melakukan hal yang seperti ini; hanya saja ini terjadi di Indonesia bukan di luar negeri sana.

IMG_20180303_115815

kamar dormitory

Tantangan berikutnya adalah makanan. Aku termasuk seorang anak pemilih makanan. Tak sembarang makanan bisa ku makan. Terlebih di Bali sendiri, banyak sekali masakan olahan Babi yang aku komitmen untuk tidak ingin dengan sengaja mencicipi atau pun mengonsumsinya. Namun sayangnya, karena tinggal jauh dari area umum tadi menjadikan pilihan makananku menjadi lebih terbatas.

Inilah alasan – alasan mengapa kerja di Bali itu gak seru. Iya, gak akan seru kalau kamu tinggal ekslusif dan jauh dari area umum. Kamu tidak tahu keberagaman di luar seperti apa, bahwa ternyata di Bali pun banyak sekali pendatang, terlebih dari Jawa Timur yang siap menyediakan jenis makanan halal yang bisa kamu konsumsi di warung – warung mereka.

Kedua, kerja di Bali juga gak akan seru. Kalau kamu tidak memiliki kendaraan dan hanya bergantung dari tebengan teman kantor saja. Kamu jadi tidak bisa menjelajah sampai ke tempat – tempat yang hanya bisa dijelajah dengan intuisimu sendiri. Oleh karena itu, kerja di Bali memang gak akan seru, jika kamu hanya kerja kemudian pulang, besoknya lagi kerja lalu pulang, dan begitu pun seterusnya.

Ohiya, judul tulisan ini hanyalah click-bait. Menurutku, apa pun dan dimana pun kamu kerja, selagi kamu bisa merdeka menjadi dirimu, berpetualang di sela kesibukanmu, pergi kemana pun kamu mau, semuanya akan terus terasa asik dan seru kok! Jadi, masih tertarik pindah kerja ke Bali?


 

(Berikutnya, aku akan coba cerita bagaimana susah dan gampangnya mencari kosan murah di Bali. Tetap setia membaca tulisan sederhana di blog ini yah! Because sharing is caring, happy reading…..)

#1 Senin di ‘98

SUARA riuh terdengar keras. Ketika bangku – bangku mulai diturunkan dari atas meja, kemudian tas – tas mungil mulai mengisi hampir semua kursi kayu tersebut.

Beberapa Ibuk nampak masih belum bisa meninggalkan anak – anaknya, meski lonceng dari besi tua telah dibunyikan dan setiap murid baru juga harus mengikuti upacara bendera perdana mereka. Ini adalah upacara bendera pertama bagiku. Kini aku memasuki kelas 1, meskipun umurku masih terlalu kecil untuk dilepas Bapak – Ibu.

Ibu sempat mengantarku sebentar pagi tadi. Menitipkanku pada Bu Guru sambil terus mengucapkan pada orang tua lainnya yang turut mengantarkan anak – anak mereka, bahwa aku hanyalah dititipkan di sekolah, tidak untuk belajar, hanya agar aku memiliki teman bermain. Beberapa teman main yang juga tetanggaku, banyak yang mulai masuk sekolah tahun ini.

Upacara sudah siap dimulai. Anak-anak dari kelas 1 sampai 6 sudah berbaris rapi membentuk huruf U, petugas upacara dan para guru pun sudah berbaris rapi membentuk satu barisan terpisah di sudut depan lapangan upacara. Sekolah itu, SDN II Maleber tidak memiliki pasukan aubade khusus; biasanya adalah anak-anak kelas 5 dan 6 lah yang menjadi pasukan paduan suaranya.

Aku yang masih berusia 5 tahun dan belum pernah rasanya berdiri lama di lapangan, tak tahan. Jika ada angin bertiup ke kanan, kaki mungilku kan juga turut goyang ke kanan, jika angin bertiup ke kiri, kakiku kan goyang ke kiri. Persis juga di belakang barisan kami adalah tempat parkir kuda delman di Pasar Senin. Jika sudah bosan menatap ke depan, aku dan teman – temanku juga akan sering menoleh ke belakang, melihat pemandangan yang lebih seru kala itu; Kuda Gagah Delman Pak Abu.

[PEMUDA MASA KINI : ANAK PANAH VS PERAHU KERTAS]

Masa muda adalah gerbang menuju masa penentuan. Dimana di masa muda lah setiap jalan – jalan yang dipilih dan dilalui bisa sangat menentukan ke tempat mana selanjutnya kita akan menuju. Oleh karena itu, menjadi sebuah hal yang wajar ketika para pemuda sering kali merasakan galau akan kehidupannya, menemukan banyak kebingungan juga kecemasan.

 

Dalam menentukan masa depannya, para pemuda ini memiliki beragam sekali cerita. Namun dari kesemua cerita tersebut dapat dikelompokkan ke dalam dua grup besar, yakni grup anak panah dan grup perahu kertas. Masuk ke grup manakah kamu?

 

Grup anak panah adalah mereka (para pemuda) yang sebenarnya sudah merencanakan kehidupan mereka dengan sangat efektif dan efisien. Mereka menjadikan tujuan hidup mereka sebagai bidang tembak dan mereka merencanakan cara terbaik untuk menembak target tersebut. Para pemuda di grup ini percaya jika mereka mengikuti rencana yang telah mereka susun secara satu per satu, pada akhirnya mereka akan mencapai sasaran dalam waktu yang lebih cepat, selayaknya anak panah yang meluncur ke arah targetnya. Namun kelemahan dari grup ini adalah mereka yang selalu memiliki kecemasan besar akan jalan yang mereka pilih ini adalah jalan terbaik dan tercepat untuk meraih tujuan mereka atau tidak. Selain itu, karena rencana hidup yang sudah sangat tersusun rapi, membuat para pemuda di grup ini biasanya enggan untuk mencoba lebih banyak kemungkinan lain yang sebenarnya bisa mereka pilih.

 

Grup kedua yakni grup perahu kertas adalah mereka (para pemuda) yang sering kali merasa hilang arah. Masalah yang sering dialami oleh grup ini adalah tujuan hidup yang tidak jelas. Sama halnya seperti sebuah perahu kertas yang diletakkan di atas aliran air, mereka akan mulai mengikuti alur yang ada dan bergerak tanpa tujuan. Tipe perahu kertas adalah mereka yang justru biasanya lebih serius dalam menjalani kehidupan di masa kini, sehingga mereka tidak terlalu ingin membebani pikiran mereka tentang rencana – rencana jangka panjang. Mereka tidak dapat membuat rencana yang matang untuk masa depan mereka karena pandangan mereka akan masa depan terus menerus berubah.

 

Jebakan terbesar dari para pemuda di grup kedua ini adalah kemalasan. Setelah merasa bingung dengan tujuan dan cara mencapai tujuan, serta gagal dalam mendapatkan sebuah jawaban, kebanyakan dari mereka akhirnya akan mengangkat tangan dan menyerah. Jika pikiran tersebut berlangsung selama beberapa hari, akan membuat mereka mengalami kecenderungan untuk bermalas-malasan. Padahal, ketika kemalasan menjadi bagian dari sebuah rutinitas, maka kita akan lebih sering menyalahkan diri, dimana kita tahu bahwa tidak seharusnya kita begitu, dan semua yang pernah ada dalam pikiran mengenai arah tujuan hidup, kemudian akan menghilang.

 

Lalu manakah yang lebih baik? Grup paling ideal sebenarnya adalah menjadi orang yang tidak tergabung ke kedua grup tersebut, namun menjadi tipikal orang yang berada di tengah keduanya. Ingatlah bahwa hidup tidak selalu tepat meraih tujuannya, seperti anak panah yang tepat mengenai targetnya. Ingat pula bahwa hidup tidak mengalir tanpa arah dan tujuan, seperti halnya perahu kertas. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membuat kita menjadi terbuka dan mampu menerima segala bentuk pengalaman baru, menyadari ke mana arah yang kita ambil, dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan. Semoga dengan menjadi pemuda tipe ini, kita masih memiliki arah yang jelas ke depan, namun juga masih mampu menikmati hidup masa kini dengan baik.

 

{Sebagian banyak dari tulisan ini merupakan rangkuman dari sebuah buku berjudul “Time of Your Life” karya Prof. Rando Kim}

How to Speak More Powerfully

The human voice, the instrument that we all play is the most powerful sound in the world. It’s the only one that can start a war or love by saying something. Many people might have the experience that when they speak, people don’t listen to them. So, how can we speak powerfully to make change in the world?

But before I share what we should do to have a powerful speak, I’d like to share to you that there are a number of habits that we need to move away from. It’s resumed as seven deadly sins of speaking. Those are pretty large habits that we can all fall into.

First, gossip. Speaking ill of somebody who’s not present. It’s not a nice habit and we know perfectly well the person gossiping, five minutes later will be gossiping about us. Then second is judging. We know people who are like this in conversation and it’s very hard to listen to somebody if you know that you’re being judged, also found wanting at the same time.

Third is negativity. It’s hard to listen, when somebody is that negative. Next, fourth is complaining. Fifth is excuses. Some people have a blame-thrower. They just pass it on to everybody else and don’t take responsibility for their actions, and again it’s hard to listen to somebody who is being like that.

Sixth is penultimate or lying. It also means embroidery and exaggeration. The exaggeration sometimes becomes lying and we don’t want to listen to people we know are lying to us. Then seventh is dogmatism. The confusion of facts with opinions. When those two things get conflated, you’re listening into the wind. You know, somebody is bombarding you with their opinions as if they were true. It’s difficult to listen to that.

After we successfully avoid those seven deadly sins of speaking, there are four really powerful cornerstones or foundations, that we can stand on if we want our speech to be powerful and to make change in the world. It’s resumed in a word of “HAIL”.

H is honesty. Being true in what you say, being straight and clear.  A is authenticity, just being yourself. It’s standing in your own truth. I is integrity. Being your word actually doing what you say and being somebody people can trust. Last L is love. It doesn’t mean romantic love but it’s mean wishing people for well.

This writing was inspired by Julian Treasure (Sound Consultant) on his speaking at TEDGlobal, June 2013.

PENGHARGAAN TERBAIK

Bagaimana pun hidup selalu memiliki periode pasang dan surut, yang terbaik adalah ketika di akhir perjalanan, kita bisa menoleh ke belakang dengan bangga akan apa yang telah kita perjuangkan susah payah sebelumnya. Bukan terus menerus membanggakan diri akan pencapaian di masa lalu, pernah juara ini, pernah menjadi bintang itu, sedangkan kita hidup untuk masa kini dan masa depan.

Banyak sekali mungkin di antara kita para pemuda yang gampang merasa iri dengan mereka yang telah meraih sukses lebih dulu, percaya bahwa kita telah tertinggal dan sudah gagal. Namun ingatlah, bahwa setiap bunga akan mekar pada musimnya masing – masing, tidak ada yang terlambat mekar; hanya saja musimnya mungkin memanglah belum tiba.

Tidak terlalu penting, secepat apa kita bisa sukses, namun yang lebih penting adalah bagaimana cara kita untuk mencapai kesuksesan tersebut. Jika diibaratkan pada sebuah malam penganugerahan, manakah yang menurutmu lebih baik dan jika kamu di sana akan merasa lebih bangga, mendapat penghargaan kategoti aktor/aktris terbaik atau aktor/aktris pendatang baru terbaik?

Penghargaan untuk aktor/aktris pendatang baru terbaik biasanya diberikan kepada mereka yang mampu memperlihatkan kemampuan akting yang luar biasa di awal karir mereka. Namun akan kah pendatang baru terbaik tersebut akan terus menjadi terbaik?

Memang di awal penghargaan itu, pastilah pendatang baru terbaik akan dapat banyak perhatian dan pujian dari khalayak ramai. Namun hal tersebut kebanyakan tak berlangsung lama. Ketika para aktor/aktris pendatang baru terbaik tersebut sudah secepat itu merasa puas dan arogan dengan pencapaian awal mereka, namun kemudian mereka tak sanggup mempertahankannya.

Mari kita amati si aktor/aktris pemeran terbaik. Mereka biasanya dikenal baru pada masa puncak karirnya, setelah melewati proses karir yang begitu panjang. Namun nama mereka akan jauh lebih dikenang, karena kita mengenal mereka mulai dari mereka mendapatkan peran kecil sampai akhirnya mendapatkan peran penting. Hal tersebut pun membuat kita semua bisa jauh lebih mudah mengingat dan susah untuk melupakan si aktor/aktris terbaik tersebut.

Begitu pun dengan kita. Seringnya kita ingin mendapatkan penghargaan sebagai aktor/aktris pendatang baru terbaik, dengan memiliki pekerjaan bagus di sebuah perusahaan besar lebih dahulu daripada teman – teman kita yang lain. Kita yang ingin membangun karier profesional lebih dahulu dan memperoleh kekayaan serta kemapanan lebih dahulu dari teman kita yang lainnya.

Pokoknya, banyak di antara kita yang sangat terobsesi untuk mendapatkan penghargaan pendatang baru terbaik tersebut dan menjadi kurang antusias untuk membangun karir guna memperoleh penghargaan sebagai kategori aktor/aktris terbaik di akhir perjalanan karir kita nanti.

Berdasarkan penelitian, hampir semua orang merasa tertarik dengan apa yang akan dicapainya pada usia 20-an dan 30-an. Hampir semua orang juga tidak tertarik untuk melihat apa yang akan mereka peroleh di usia 50-an dan 60-an, masa yang disebut sebagai golden age atau masa keemasan hidup kita.

Hal ini membuktikan bahwa hampir semua orang dari kita lebih fokus dengan apa yang kita capai dalam waktu dekat, bukan jangka waktu yang lebih panjang.

Pertanyaannya, apakah kita masih terus – terusan terjebak dalam obsesi itu? Atau masihkan kita sudah merasa gagal karena merasa tertinggal dari pencapaian yang lainnya? Jawabannya ada pada setiap diri kita masing – masing.

 

Terinspirasi dari tulisan Prof. Rando Kim dalam Time of Your Life.