How to Speak More Powerfully

The human voice, the instrument that we all play is the most powerful sound in the world. It’s the only one that can start a war or love by saying something. Many people might have the experience that when they speak, people don’t listen to them. So, how can we speak powerfully to make change in the world?

But before I share what we should do to have a powerful speak, I’d like to share to you that there are a number of habits that we need to move away from. It’s resumed as seven deadly sins of speaking. Those are pretty large habits that we can all fall into.

First, gossip. Speaking ill of somebody who’s not present. It’s not a nice habit and we know perfectly well the person gossiping, five minutes later will be gossiping about us. Then second is judging. We know people who are like this in conversation and it’s very hard to listen to somebody if you know that you’re being judged, also found wanting at the same time.

Third is negativity. It’s hard to listen, when somebody is that negative. Next, fourth is complaining. Fifth is excuses. Some people have a blame-thrower. They just pass it on to everybody else and don’t take responsibility for their actions, and again it’s hard to listen to somebody who is being like that.

Sixth is penultimate or lying. It also means embroidery and exaggeration. The exaggeration sometimes becomes lying and we don’t want to listen to people we know are lying to us. Then seventh is dogmatism. The confusion of facts with opinions. When those two things get conflated, you’re listening into the wind. You know, somebody is bombarding you with their opinions as if they were true. It’s difficult to listen to that.

After we successfully avoid those seven deadly sins of speaking, there are four really powerful cornerstones or foundations, that we can stand on if we want our speech to be powerful and to make change in the world. It’s resumed in a word of “HAIL”.

H is honesty. Being true in what you say, being straight and clear.  A is authenticity, just being yourself. It’s standing in your own truth. I is integrity. Being your word actually doing what you say and being somebody people can trust. Last L is love. It doesn’t mean romantic love but it’s mean wishing people for well.

This writing was inspired by Julian Treasure (Sound Consultant) on his speaking at TEDGlobal, June 2013.



Bagaimana pun hidup selalu memiliki periode pasang dan surut, yang terbaik adalah ketika di akhir perjalanan, kita bisa menoleh ke belakang dengan bangga akan apa yang telah kita perjuangkan susah payah sebelumnya. Bukan terus menerus membanggakan diri akan pencapaian di masa lalu, pernah juara ini, pernah menjadi bintang itu, sedangkan kita hidup untuk masa kini dan masa depan.

Banyak sekali mungkin di antara kita para pemuda yang gampang merasa iri dengan mereka yang telah meraih sukses lebih dulu, percaya bahwa kita telah tertinggal dan sudah gagal. Namun ingatlah, bahwa setiap bunga akan mekar pada musimnya masing – masing, tidak ada yang terlambat mekar; hanya saja musimnya mungkin memanglah belum tiba.

Tidak terlalu penting, secepat apa kita bisa sukses, namun yang lebih penting adalah bagaimana cara kita untuk mencapai kesuksesan tersebut. Jika diibaratkan pada sebuah malam penganugerahan, manakah yang menurutmu lebih baik dan jika kamu di sana akan merasa lebih bangga, mendapat penghargaan kategoti aktor/aktris terbaik atau aktor/aktris pendatang baru terbaik?

Penghargaan untuk aktor/aktris pendatang baru terbaik biasanya diberikan kepada mereka yang mampu memperlihatkan kemampuan akting yang luar biasa di awal karir mereka. Namun akan kah pendatang baru terbaik tersebut akan terus menjadi terbaik?

Memang di awal penghargaan itu, pastilah pendatang baru terbaik akan dapat banyak perhatian dan pujian dari khalayak ramai. Namun hal tersebut kebanyakan tak berlangsung lama. Ketika para aktor/aktris pendatang baru terbaik tersebut sudah secepat itu merasa puas dan arogan dengan pencapaian awal mereka, namun kemudian mereka tak sanggup mempertahankannya.

Mari kita amati si aktor/aktris pemeran terbaik. Mereka biasanya dikenal baru pada masa puncak karirnya, setelah melewati proses karir yang begitu panjang. Namun nama mereka akan jauh lebih dikenang, karena kita mengenal mereka mulai dari mereka mendapatkan peran kecil sampai akhirnya mendapatkan peran penting. Hal tersebut pun membuat kita semua bisa jauh lebih mudah mengingat dan susah untuk melupakan si aktor/aktris terbaik tersebut.

Begitu pun dengan kita. Seringnya kita ingin mendapatkan penghargaan sebagai aktor/aktris pendatang baru terbaik, dengan memiliki pekerjaan bagus di sebuah perusahaan besar lebih dahulu daripada teman – teman kita yang lain. Kita yang ingin membangun karier profesional lebih dahulu dan memperoleh kekayaan serta kemapanan lebih dahulu dari teman kita yang lainnya.

Pokoknya, banyak di antara kita yang sangat terobsesi untuk mendapatkan penghargaan pendatang baru terbaik tersebut dan menjadi kurang antusias untuk membangun karir guna memperoleh penghargaan sebagai kategori aktor/aktris terbaik di akhir perjalanan karir kita nanti.

Berdasarkan penelitian, hampir semua orang merasa tertarik dengan apa yang akan dicapainya pada usia 20-an dan 30-an. Hampir semua orang juga tidak tertarik untuk melihat apa yang akan mereka peroleh di usia 50-an dan 60-an, masa yang disebut sebagai golden age atau masa keemasan hidup kita.

Hal ini membuktikan bahwa hampir semua orang dari kita lebih fokus dengan apa yang kita capai dalam waktu dekat, bukan jangka waktu yang lebih panjang.

Pertanyaannya, apakah kita masih terus – terusan terjebak dalam obsesi itu? Atau masihkan kita sudah merasa gagal karena merasa tertinggal dari pencapaian yang lainnya? Jawabannya ada pada setiap diri kita masing – masing.


Terinspirasi dari tulisan Prof. Rando Kim dalam Time of Your Life.

10 Ways to Have a Better Conversation

Nowadays many of us have ever unfriended someone on facebook because they said something offensive about politics or religion, childcare, or even food. Many of us sometimes also avoid some persons because we just don’t want to talk to them, in order to have an impolite conversation.

This world that we live in, which every conversation has the potential to devolve into an argument, but we are not ready to it. Pew Research did a study of 10,000 American adults, they found that at this moment, we are more polarized, we are more divided, than we ever have been in history. We’re less likely to compromise, which means we’re not listening to each other. And we make decisions about where to live, who to marry, and even who our friends are going to be, based on what we already believe. Again, we’re not listening to each other.

A conversation requires a balance between talking and listening, and somewhere a long the way, we lost that balance. Now, part of that is due to technology, the smartphones that we all either have in our hands or close enough that we could grab them really quickly. According to Pew Research about a third American teenagers send more than a hundred texts a day. And many more of them, almost most of them are more likely to text their friends than they are to talk to them face to face.

Celeste Headlee has worked as a radio host for decades, and she knows the ingredients of a great conversation. There are 10 basic rules and if we just choose one of them and master it, we will already enjoy better conversations.

  1. Don’t multitask

It doesn’t mean just set down our cell phone, our tablet, our car keys or whatever is in our hand. It means be present, be in that moment. Don’t think about our argument we had in our previous conversation, don’t think about what we’re going to have for the future, because if you think another things while you are having conversation, just get out, don’t be half in it and half out of it.

  1. Don’t pontificate

If we want to state our opinion without opportunity for response, argument, push-back, or growth, just write a blog! We need to enter every conversation assuming that we have something to learn. The famed therapist M. Scott Peck said that true listening requires a setting aside of oneself. Sometimes that means setting aside your personal opinion. Sensing this acceptance, the speaker will become less and less vulnerable; more and more likely to open up the inner recesses of his or her mind to the listener. Again, assume that we always have something to learn. Then, Bill Nye said that everyone we will ever meet knows something that we don’t. So, remember that everybody is an expert in something.

  1. Use open-ended questions

Start our question with who, what, when, where, why, or how. If we put in a complicated question, we’re going to get a simple answer out. For example, if you asked, “were you terrified?”, he or she is going to respond to the most powerful word in that sentence, which is “terrified”, and the answer is “Yes, I was” or “No, I wasn’t”. “Were you angry?” “Yes, I was very angry”. Let them describe it. They are the ones that know. Try asking them things like, “what was like that?”, “how did that feel?”. Because then they might have to stop for a moment and think about it, and you’re going to get a much more interesting response.

  1. Go with the flow

That means thoughts will come into our mind and we need to let them go out of our mind. While we’ve sitting having a conversation with someone and then we remember another things and we would stop listening. So, the solution is stories and ideas that are going to come to us, tell them. Because we need to let them come and let them go.

  1. If we don’t know, say that we don’t know

Now, people on the radio are much more aware that they’re going on the record, and so they’re more careful about what they claim to be an expert in and what they claim to know for sure. Do that. Err on the side of caution. Talk should not be cheap.

  1. Don’t equate our experience with theirs

If they talking about having lost a family member, don’t start talking about the time we lost a family member too. If they’re talking about the trouble they’re having at work, don’t tell them about how much we hate our job. It’s not the same and it’s never the same. All experiences are individual. More importantly, when people try to talk with us, it is not about us. We don’t need to take that moment to prove how amazing we are or how much we’ve suffered. Remember that conversation is not a promotional opportunity.

  1. Try not to repeat yourself

It’s condescending and it’s really boring, and we tend to do it a lot. Especially in work conversations or in conversations with our kids, we have a point to make, so we just keep rephrasing it over and over. Don’t do that.

  1. Stay out of the weeds

Frankly, people don’t care about the years, the names, the dates, all those details that we’re struggling to come up with in our mind. They don’t care. What they really care about is us. They care about what we’re like, what we have in common. So, forget the details and leave them out.

  1. Listen

We can’t tell how many really important people have said that listening is perhaps the most, the number one most important skill that we could develop. Buddha said that if our mouth is open, we’re not learning. Calvin Coolidge said that no man ever listened his way out of a job. Why do we not listen to each other? First because we’d rather talk, when we’re talking, we are in control, so we don’t have to hear anything that we’re not interested in; we’re the center of attention, so we can bolster our own identity.

Or the other reason is we get distracted. The average person talks at about 225 words per minute, but we can listen up to 500 words per minute. So our minds are filling in those other 275 words. And look, we know, it takes effort and energy to actually pay attention to someone, but if we can’t do that, we’re not in a conversation. We are just two people shouting out barely related sentences in the same places. So, we have to listen to one another. Stephen Covey alarmed us that most of us actually don’t listen with the intent to understand, but we just listen with the intent to reply.

  1. Be brief

A good conversation is like a miniskirt; short enough to retain interest, but long enough to cover the subject ( All of this boils down to the same basic concept, and it is this one: be interested in other people.

If we’re as a listeners, always assume that everyone has some hidden amazing thing about them. It will make us be a better listener: we keep our mouth shut as often we possibly can, we keep our minds open, and we are always prepared to be amazed, and we are never disappointed. We have to do this thing. Go out, talk to people, listen to people, and most importantly, be prepared to be amazed.

Those are the things that can make us have a better conversation ever after. Don’t only read them, but understand them, then practice them to our daily conversations. Let’s be prepared to be amazed with the results!

Source : TEDxCreativeCoast, May 2015



Seperti kita ketahui, di era digital saat ini, nama Jack Ma bukan lah nama yang asing dan pastinya cukup sering kita dengar. Bagaimana tidak, Jack Ma merupakan salah satu orang terkaya di dunia yang berhasil dengan bisnis marketplace online yang ia bangun. Dengan brand Alibaba, nama Jack Ma semakin banyak dikenal luas tidak hanya di China, tetapi sampai manca negara.

Namun, tahukah kamu beberapa fakta menarik yang dimiliki oleh Pendiri Alibaba Group tersebut? Berikut telah coba dirangkum, 7 fakta menarik dari Jack Ma yang bisa jadi menjadi inspirasi dalam hidupmu.

  1. Jack Ma merupakan seorang mantan guru

Jack Ma yang senang dengan novel – novel beladiri tradisional China karya Jing Yong, memiliki kecintaan yang sangat dalam akan mempelajari bahasa asing, terlebih Bahasa Inggris. Sejak usianya 15 tahun, Jack Ma sering melakukan sebuah kegiatan rutin setelah ia bangun pada dini hari. Biasanya ia kemudian akan sesegera mungkin mengayuh sepedanya menuju sebuah hotel di Hangzhou (kota tempat Jack Ma tinggal), hanya untuk memberikan pelayanan tour guiding secara gratis dengan imbalan ia akan diajarkan bahasa Inggris oleh turis – turis tersebut.

Sempat tiga kali gagal dalam seleksi perguruan tinggi, Jack Ma pun akhirnya bisa diterima di salah satu kampus yang menurutnya tak unggulan di kotanya teresebut; Hangzhou Teacher Collage dengan jurusan Sastra Inggris masih berkenan menerima Jack Ma, karena beruntungnya masih ada slot untuk mahasiswa baru pria di sana. Lulus dari kampusnya, Jack Ma diterima sebagai guru bahasa Inggris di Hangzhou Institute of Electrical Engineering dan ia juga mengajar di sebuah komunitas belajar bahasa Inggris yang diinisiasi sendiri.

Peralihan cita – cita menjadi seorang pebisnis, tak lekas membuat Jack Ma melepaskan karakternya sebagai guru. Sebagai seorang CEO, Jack Ma mantap untuk tetap memegang konsep bahwa karyawannya adalah seperti muridnya di kelas dahulu, mereka harus diajarkan untuk bisa menjadi lebih baik dari dirinya. Beberapa kebijakan Jack Ma, seperti perotasian karyawan pun ia lakukan seperti sedang memberikan ujian kepada siswanya, agar mereka bisa belajar lebih banyak dan tidak takut mendapatkan kegagalan.

  1. Jack Ma menjadi orang terkaya di Asia barulah pada usia 50 tahun

Kesuksesan yang diraih oleh Jack Ma tidak lah diperoleh secara instan. Terlahir dari orang tua, dimana ayahnya berprofesi sebagai fotografer dan ibu seorang buruh industri, tak membuat hidup Jack Ma serba berkecukupan saat ia masih kecil. Sebelum ia melanjutkan kuliah, Jacck Ma sempat beberapa kali melamar pekerjaan dan selalu gagal; pekerjaan apa pun dilakukannya saat itu, hingga berjuang hidup dengan bekerja di sebuah percetakan untuk mengantarkan beberapa bundel majalah dari percetakan ke stasiun kereta di kotanya pun ia lakukan. Tidak hanya itu, saat Jack Ma sudah di bangku kuliah pun, ia hampir tak bisa melanjutkan kuliahnya karena kekurangan biaya yang tak bisa selalu dipenuhi dari penghasilan orang tuanya.

Dalam dunia bisnis, Jack Ma pun telah memulai usahanya sejak tahun 1994, saat ia berusia 29 tahun. Dimulai dari bisnis biro penerjemah, berjualan kado, bunga, buku, hingga karpet. Sempat disangka penipu, disekap seperti tawanan karena urusan bisnisnya, baru lah setelah perjuangan panjangnya selama 21 tahun, ia berhasil dinobatkan sebagai orang terkaya di Asia.

  1. Isu Jack Ma dengan Pemerintah China

Jalan usaha Jack Ma tidak lah mulus, ia yang tidak hanya bersaing dengan kompetitor bisnisnya saja, melainkan juga pemerintah. Jack Ma dan Pemerintah China sempat dikhawatirkan akan saling merebutkan hak kekayaan intelektual dengan adanya perkembangan bisnis baru di China. Hal tersebut sempat membuat nilai jual saham Alibaba menjadi turun.

  1. Jack Ma sebagai tokoh dan wajah baru persimpangan antara budaya konsumerisme dan kewirausahaan di China

Telah lama, masyarakat China dikenal sebagai masyarakat yang sangat gemar sekali menabung, menyimpan uang mereka di bank, dan tidak terlalu konsumtif. Menurut salah satu keterangan, disampaikan bahwa pada awal – awal revolusi ekonomi di China, kewirausahaan dianggap sebagai langkah yang beresiko bahkan ilegal.

Namun, dengan kehadiran Jack Ma dan Alibabanya, per hari belasan juta paket kiriman kini berhasil dikirim dari transasksi di Alibaba. Salah satu situs belanja online terkenalnya pun (Taobao), mampu melesat menjadi situs web dengan pengunjung terbanyak no. 3 di China, dan no. 12 di dunia. Jack Ma dan Alibaba cukup banyak merubah budaya masyarakat China menjadi konsumerisme.

  1. Jack Ma bukan lah ahli matematika

Ketika bersekolah, Jack Ma merasa sangat kesulitan dalam pelajaran matematika, berbeda dengan kebanyakan CEO pada umumnya. Pada saat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi yang pertama, Jack Ma gagal dan hanya memperoleh nilai 1/120 dalam ujian matematika. Pada kesempatan ujian tahun berikutnya, nilai matematikanya naik menjadi 19/120, namun nilai total ujian lainnya menurun, sehingga Jack Ma kembali gagal masuk perguruan tinggi.

Ujian terakhir yang dia ikuti, dengan penuh perjuangan tanpa putus asa, dimana setiap minggu Jack Ma rajin pergi ke Perpustakaan Universitas Zhejiang dan berusaha menghafal rumus persamaan di sana, akhirnya nilai matematikanya mampu mencapai 89/120. Meski terbilang naik drastis, namun ternyata nilai tersebut pun masih rendah beberapa poin dari standar nilai penerimaan minimal untuk S1 di China. Sampai saat ini, Jack Ma masih merasa kesulitan menghadapi matematika.

  1. Jack Ma tidak mahir teknologi

Sebagai pemilik perusahaan berbasis teknologi canggih, Jack Ma tidak lah mahir dalam ilmu teknologi. Ia tak mengerti masalah coding dan sejenisnya, namun ketidakmahirannya tersebut malah membuat Jack Ma bangga. Ia memang tidak mahir dalam teknologi, namun ia merasa setidaknya ia masih memiliki sebuah modal besar, yakni ambisi yang kuat dan strategi yang tak biasa dari kebanyakan yang lain. Hal ini lah yang membuatnya diberi julukan sebagai “Crazy Jack”.

  1. Jack Ma banyak disegani tokoh penting dunia

Tidak hanya di China. Tokoh – tokoh penting dunia, banyak sekali yang menyegani sesosok Jack Ma, termasuk seorang mantan Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama. Pada suatu forum tanya jawab di APEC 2015 di Manila, Barrack Obama bersedia mengajukan diri untuk menjadi moderator langsung pada sesi tersebut. Sebuah kehormatan bagi Jack Ma untuk bisa dimoderatori oleh Barrack Obama.

Tokoh di dunia teknologi, seperti Mark Zuckerberg pun segan dengan Jack Ma yang memiliki kemampuan bahasa Mandarin serta bahasa Inggris yang baik. Hal tersebut membuatnya tak mau kalah, sehingga Mark memiliki komitmen juga untuk mempelajari bahasa Mandarin dan menggunakannya dalam mengisi beberapa acara.

Nah, itulah beberapa fakta menarik dari cerita hidup Jack Ma. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua, untuk terus semangat berjuang dan belajar, serta tak mudah menyerah.

Setiap Bunga Akan Mekar pada Musimnya



Dokumen Pribadi : Bunga di Pinggir Jalan, Jati Luhur, Purwakarta

Jika kamu pernah mengunjungi atau mempelajari negara – negara beriklim sub tropis, kamu akan mengenal terdapat 4 musim dalam setiap tahunnya yakni musim semi (spring/haru), musim panas (summer/natsu), musim gugur (autumn/fall/aki), dan musim dingin (winter/fuyu). Mari kita bercerita terlebih dahulu mengenai musim – musim tersebut. Sebagaimana bumi ini berbentuk bola dunia maka terdapat dua bagian sub tropis, yakni subtropis utara (northern hemisphere) yang berada di bagian atas dari globe, seperti Jepang, Korea, Amerika Serikat, serta negara – negara di Eropa dan terdapat subtropis selatan (southern hemisphere) yang berada di bagian bawah dari globe, seperti Australia, Antartika, dan beberapa bagian negara Amerika Selatan atau Amerika Latin.

Penyebutan musim biasanya dimulai dari musim semi sebagai musim pertama, musim dimana vegetasi tanaman mulai bermunculan, bunga- bunga mulai bermekaran, biasanya untuk daerah subtropis utara dimulai dari bulan Maret sampai Mei dan daerah subtropis selatan dimulai dari bulan September sampai November.

Musim kedua adalah musim panas, musim paling hangat sepanjang tahun, biasanya untuk daerah subtropis utara dimulai dari bulan Juni sampai Agustus dan daerah subtropis selatan dimulai dari bulan Desember sampai Februari.

Musim berikutnya adalah musim gugur, musim ketiga dimana biasanya merupakan musim panen untuk ladang pertanian dan buah – buahan, musim dimana daun – daun berguguran, biasanya untuk daerah subtropis utara dimulai dari bulan September sampai November dan daerah subtropis selatan dimulai dari bulan Maret sampai Mei.

Musim terakhir dalam satu siklus adalah musim dingin, musim terdingin sepanjang tahun, dimana salju akan banyak turun pada musim ini, biasanya untuk daerah subtropis utara dimulai dari bulan Desember sampai Februari dan daerah subtropis selatan dimulai dari bulan Juni sampai Agustus. Selesai musim dingin, maka siklusnya akan berulang ke musim semi, kemudian musim panas, musim gugur, dan musim dingin kembali, dan begitu seterusnya.

Salah satu penanda musim di negara – negara beriklim sub tropis adalah tumbuh dan mekarnya bunga – bunga. Kamu bisa melihat beragam bunga bermekaran di musim – musim yang berbeda. Pertama – tama, saat awal musim semi bunga aprikot mulai bermekaran terlebih dahulu, kemudian disusul oleh mekarnya bunga forsythia, azalea, dan magnolia. Barulah tiga bulan kemudian, bunga sakura mulai mekar bersamaan, lalu terbawa angin, sehingga tampak seperti hujan bunga yang sangat indah. Di akhir musim semi biasanya barulah bunga mawar bermekaran, membuat banyak ruangan menjadi seperti rumah kaca yang penuh dengan buket dan keranjang bunga mawar. Musim semi pun ditutup dengan banyak bermekarannya bunga anyelir, jika di Korea karena bertepatan dengan peringatan Hari Ibu dan Hari Guru, bunga anyelir ini pun tak jarang diberikan oleh para anak kepada ibunya atau murid untuk guru – gurunya sebagai simbol peringatan kedua hari tersebut.

Musim semi berganti musim panas, bunga yang bermekaran pun turut berganti. Pada musim ini adalah giliran bunga morning glories dan bunga matahari mekar di setiap sudut taman. Mengawali musim gugur, bunga cosmos barulah mekar, di saat dedaunan pepohonan mapple justru mulai banyak mengugurkan daun – daunnya. Di tutup dengan mekarnya bunga krisan, ketika bunga ini sudah hilang, maka pertanda musim dingin segera tiba. Betapa kamu dapat membayangkan, indahnya musim – musim bunga yang terus berganti, namun tetap sama saja indahnya.

Atau jika saat ini aku bertanya, dari semua bunga tersebut, manakah yang menurutmu paling indah? Mana yang terindah bukan mana yang paling kamu suka, dapatkah kamu menjawabnya? Apakah kamu setuju jika semua bunga memang indah dengan keunikan mereka masing – masing?

Kita akan jauh lebih bisa berpikir logis dan rasional dengan analogi bunga bermekaran, dimana saat kita membandingkan mekarnya bunga – bunga tersebut meski di musim yang berbeda, namun semuanya tetap lah nampak indah. Berbeda ketika kita sudah mulai saling membandingkan hidup kita dengan hidup yang lain, kesuksesan yang orang lain dapat dengan yang kita belum dapatkan.

Jika kembali ke analogi bunga bermekaran, semua orang ingin lah menjadi bunga aprikot yang mekar di awal musim semi, musim yang pertama, ketika belum ada bunga lainnya yang mekar, bahkan belum memperlihatkan kuncup mereka. Padahal, apakah bunga aprikot indah karena ia mekar lebih dulu dari yang lain? Apakah bunga ini tampak begitu indah karena alasan itu?

Tentu saja tidak. Bunga aprikot indah karena ia mekar sesuai dengan musimnya. Bagaimana jika bunga mawar misalnya, menjadi tidak sabaran dan ingin segera mekar bersamaan dengan mekarnya bunga aprikot, apa yang menurutmu akan terjadi? Tentu, yang akan terjadi adalah mawar – mawar tak akan sanggup bertahan melawan hawa dingin sisa musim dingin yang masih dibawa oleh embun paginya. Bunga – bunga pun bahkan tahu kapan merka harus mekar dan kapan masih harus menunggu sampai mekar, tidak seperti kebanyakan dari kita yang selalu ingin mendahului yang lain; kita yang selalu ingin menjadi yang pertama mekar dan nampak indah.

Apakah kamu sering merasa tertinggal dari kebanyakan temanmu? Kamu merasa telah menyia-nyiakan waktu, sementara teman – temanmu mulai melangkah menuju kesuksesan? Jika berpikir demikian, mari kita kembali mengingat bunga – bunga yang bermekaran. Ingatlah jika kamu juga akan memiliki masa mekarmu sendiri, begitu juga dengan teman – teman yang lain. Jika musimmu bleum lah datang, jangan menantang untuk segera mekar, bisa jadi nasibmu akan seperti mawar yang tak sanggup bertahan dengan dinginnya embun awal musim semi. Percayalah, suatu saat nanti musimmu pastilah kan datang, mungkin kuncup itu mekar lebih lama dari yang lain, tetapi ketika sampai pada waktunya tiba, kamu akan mekar dengan begitu indah dan menawan, sama seperti dengan bunga – bunga lain yang telah mekar sebelum dirimu. Selamat berproses, menunggu untuk menyambut musimmu tiba.


Dokumen pribadi : Anggrek di Farm House Lembang

Inspired by Prof. Rando Kim

Having Meaningful Life

Usually the purpose of life was pursuing happiness. Most people said the path to get happiness was success; so that everyone tried to find the ideal job, perfect life’s partner, big house, and much money. But instead of ever feeling fulfilled, many people felt anxious and adrift; after that they would be stressed alone.

According to the research that Emily Esfahani Smith, psychologist has done was what makes people despair is not a lack of happiness. It’s a lack of something else that is  lack of having meaning in life. But the question is, what’s the difference between being happy and having meaning in life?

Many psychologists define happiness as a state of comfort and ease, feeling good in the moment. But having meaning is deeper than that. The renowned psychologist Martin Seligman says, meaning comes from belonging to and serving something beyond yourself and from developing the best within you.

Our culture is obsessed with happiness, but Emily came to see that seeking meaning is the more fulfilling path. The studies show that people who have meaning in life, they’re more resilient, they do better in school and at work, and they even live longer. Still the question is, how can we live more meaningfully?

Emily has spent five years interviewing hundreds of people and reading through thousands of pages of psychology, neuroscience, and philosophy. She bring it all together, then Emily found four pillars of a meaningful life.

  1. Belonging.

Belonging comes from being in relationships, where you’re valued for who you are intrinsically and where you value others as well. But some groups and relationships deliver a cheap form of belonging; you’re valued for what you  believe, not for who you are.

True belonging springs from love. It lives in moments among individuals, and it’s a choice — you can choose to cultivate belonging with others.

When you lead with love, you create a bond that lifts each of you up. For many people belonging is the most essential source of meaning, those bonds to family and friends.

  1. Purpose.

Now, finding your purpose is not the same thing as finding that job that makes you happy. Purpose is less about what you want than about what you give. The key to purpose is using your strengths to serve others.

Of course, for many of us, that happens through work. That’s how we contribute and feel needed. But that also means that issues like disengagement at work, unemployment, low labor force participation, these aren’t just economic problems, they’re existential ones too.

Without something worthwhile to do, people flounder. Of course, you don’t have to find purpose at work, but purpose gives you something to live for, some “why” that drives you forward.

  1. Transcendent.

The third pilar of meaning is also about stepping beyond yourself, but in a completely different way : transcendent. Transcendent states are those rare moments when you’re lifted above the hustle and bustle of daily life, your sense of self fades away, and you feel connected to a higher reality. Transcendence sometimes can came from seeing art, through writing activity, when we get so in the zone that we lose all sense of time and place. These transcendent experiences can change you.

  1. Storytelling

The story you tell yourself about yourself. Creating a narrative from the events of your life brings clarity. It helps you understand how you became you. But we don’t always realize that we’re the authors of our stories and can change the way we’re telling them. Your life isn’t just a list of events. You can edit, interpret, and retell your story, even as you’re constrained by the facts.

When you change the bad stories into different good stories, Dan McAdams, the psychologist called it as a “redemptive story” , where the bad is redeemed by the goods. People leading meaningful lives, he’s found tend to tell stories about their lives defined by redemption, growth, and love.

Be Brilliant after The Boredom

Have you ever felt the boredom? I guess everybody will say ‘yes’, especially for the people who are living in this era. When smartphone and gadgets become so important for everyone’s living.

When many people said that gadget is a stuff to reduces the boredom, but somehow they never thought that gadget its self was a source of the boredom; especially smartphone. Addicting of smartphone would make us enjoy in accessing and using it; anytime and anywhere we have opportunity or even we haven’t opportunity then we make it possible to use it.

Have you ever asked your self, how many times you check your instagram/facebook/twitter’s account in a day? Once, twice, ten times, or maybe hundred times? For what reason you always checking it? What would you like to do when you’re boring? Checking the social media, exactly : switching from one apps to another apps. Then we become a multi tasker.

I know people will judge me like a sarcastic people. But ok, then I write here at least to remind my self. From a seminar I heard that Dr. Daniel Levitin, neuroscience researcher said : everytime you shift your attention from one thing to another, the brain has to engage a neurochemical switch that uses up nutrients in the brain to accomplish that. If you’re attempting to multitask, doing four or five things at once, you’re not actually doing four or five things at once, because the brain doesn’t​ work that way. Instead, you rapidly shifting from one thing to the next, depleting neural resources as you go. Switching it with using a glucose but we have a limited supply of that stuff.

Through this post, actually I’d like to share about the boredom. I mentioned smartphone because nowadays people didn’t want to feel the boredom by accessing smartphone (too much). Manoush Zomorodi in one TED Talk session explained, “when we get bored, we ignite a network in our brain called the “default mode”. So our body, it goes on the autopilot when we’re boring, but actually that is when our brain gets really busy”. Let’s say when we’re boring, our brain is in the smartest and best condition to be used, right?. .

Dr. Sandi Mann, boredom researcher said: once you start daydreaming and allow your mind to really wander, you start thinking a little bit beyond the conscious, a little bit into the subconscious, which allows sort of different connections to take place, it’s really awesome actually. Is it positive, isn’t it?

So what we should do? Should we switch off our smartphone along the day, so we will get the boredom easily? Nope, here I want to invite you – together with me, to start to reduce our wasting time on smartphone to make it more productive. Yes, I know. Changing people’s behaviour in such a short time period is ridiculously ambitious.

But, a year ago, when I was still being a Pengajar Muda; living in a place that lack of internet access or even signal of mobile network, I lived happily and more productive than when I have come back to live in town. In often I miss that moments and now I am trying to make it become a reality.

Researchers at USC have found, they’re studying teenagers who are on social media while they’re talking to their friends or they’re doing homework, they are less creative and imaginative about their own personal futures and about solving societal problems. Whereas, CEOs in an IBM survey identified creativity as the number one leadership competency.

This, what I worried if it will happen to my children in my previous deployment area in their future. Because I know they are naturally great.

So, one of my focus in the future is also about the digital literacy : teaching people, especially kids, how to use technology to improve their lives and to self-regulate to be more productive. Because if they don’t decide how they’re going to use the technology, the platform will decide for them. They will become a slave pf the technology.

So, now let the boredom come to your life and just enjoy it.

This writing was inspired by Manoush Zomorodi a Journalist, when she was a speaker in one TED Talk session. Hopefully it will inspire you too.