Kak Santi Pejuang Sejati

(Andita Nur Sakinah Lili Budiarti atau sering disapa Dita merupakan Guru Pengabdi Muara Enim Cerdas angkatan pertama yang ditugaskan di SDN 12 Sungai Rotan. Ia menceritakan tetang sesosok pemudi inspiratif di desanya yang membuatnya sadar akan arti berbagi.)

 

Kak Santi

Dita (Kerudung hitam) dan Kak Santi (Kerudung merah)

Kak Maria Santi atau disapa Kak Santi merupakan lulusan Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Palembang. Lahir dan besar di Desa Sukarami, Ibukota Kecamatan Sungai Rotan, Kak Santi sejak menamatkan sekolah, beliau memilih pulang ke kampung kelahiran dan membangun kampungnya.

Kak Santi bukan berasal dari keluarga berada, Ayah dan Ibunya hanya seorang petani sederhana. Semangat Kak Santi yang selalu menyala-nyala membuat tiap orang yang berada didekatnya juga ikut tertular. Di saat sulitnya mengajak orang-orang untuk ikut berkontribusi demi memajukan pendidikan di suatu daerah, dengan beragam tantangan apapun beliau seorang diri tetap terus maju jalan. Beruntungnya Kecamatan Sungai Rotan selama tiga tahun ini mendapat bantuan tenaga kesehatan dari Pencerah Nusantara yang ditugaskan di puskesmas kecamatan, sehingga Kak Santi sering kali mengajak teman-teman Pencerah untuk berkolaborasi.

Keinginan Kak Santi cukup sederhana. Ia ingin sekali membangun taman baca masyarakat di Desa Sukarami. Bukan hal yang mudah membangun suatu wadah untuk yang baik tanpa dukungan dari banyak pihak, terlebih masalah dana. Tetapi Kak Santi percaya niat baik akan selalu dimudahkan jalannya. Ketika beliau merasa sendiri, Tuhan mengirimkan teman-teman dari Pencerah Nusantara untuk membantunya, sehingga kini taman baca harapannya pun sudah berdiri mantap.

Apakah pekerjaan Kak Santi ini?

Saat ini Kak Santi tidak mempunyai pekerjaan tetap. Keputusan untuk tinggal dan bertahan di kampung halaman membuatnya cukup tertantang untuk mendapatkan sebuah pekerjaan tetap. Padahal sebelumnya Kak Santi pernah bekerja di perusahaan kelapa sawit sebagai buruh yang pekerjaannya memeriksa keadaan kelapa sawit yang ada di kebun. Pergi setelah subuh dengan jarak lokasi yang sangat jauh dari rumah dan melewati hutan belantara.  Sungguh lelah jika dibayangkan. Tak lama dari itu beliau memutuskan untuk berhenti karena pekerjaan tersebut sangat menantang mengingat beliau adalah seorang perempuan.

Perjuangannya tidak berhenti sampai di sana. Kak Santi mulai membuka usaha warung makan sambil membantu Ayah dan Ibunya menyadap karet. Sayangnya juga tidak bertahan lama, karena penduduk desa tidak terlalu berminat makan di warung. Sekarang Kak Santi mencoba berjualan keliling di pasar kalangan. Mungkin di antara kita berpikir mengapa ada orang seperti ini : membiayai hidupnya sendiri saja sudah sangat sulit, masih maunya untuk memikirkan kebaikan kepada sesama.

Kak Santi memiliki prinsip hidup, “Tetap berbagi walau diri sendiri kekurangan”. Hingga taman baca masyarakat terus berjalan walau dengan pendanaan seadanya. Adapun taman baca tersebut didirikan oleh Kak Santi bukan hanya menjadi tempat anak – anak membaca saja, tetapi juga menjadi tempat untuk belajar. Belajar matematika, belajar membaca atau sekedar bermain permainan edukatif, semuanya dilakukan di sana.

Aku dan Kak Santi dipertemukan akrab dalam sebuah program kolaborani bernama “Pelajar Mengajar”. Ada sekitar 30 siswa yang diberikan materi selama 5 hari pelatihan, Ada Focus  Group Discussion (FGD), strategi mengajar, public speaking, dimensi kepemimpinan, dan behavior change communication. Pesertanya adalah siswa SMA/SMK se-kecamatan Sungai Rotan. Pelajar Mengajar ini akan menjadi tim yang menjalankan program-program kerja  untuk kemajuan pendidikan di Kecamatan Sungai Rotan. Kak Santi berharap dengan adanya Pelajar Mengajar ini akan bermunculan para aktor lokal yang se

makin semangat untuk berkontribusi memajukan pendidikan di Kecamatan Sungai Rotan.

Kak Santi pernah berbicara mengungkapkan rasa senangnya kedatangan Guru Pengabdi di Kecamatan Sungai Rotan. Ia merasa tidak sendiri lagi katanya. Dari Kak Santi, aku belajar untuk terus maju walau dalam kesulitan apapun dan selalu percaya bahwa niatan baik akan selalu diberikan jalan walau terkadang penuh kerikil. Terima kasih Kak Santi untuk banyak inspirasi yang telah dibagikan.

Ibu Harisna : Bukan Warga Desa Asli Namun Rasa Cintanya Sangat Tinggi

(Andita Nur Sakinah Lili Budiarti atau sering disapa Dita merupakan Guru Pengabdi Muara Enim Cerdas angkatan pertama yang ditugaskan di SDN 12 Sungai Rotan. Ia menceritakan tetang sesosok guru inspiratif yang membuatnya belajar banyak hal tentang filosofi seorang pendidik.)

Ibu Harisna

Perkenalkan. Namanya Ibu Harisna. Seorang guru yang sudah mengajar di SDN 12 Sungai Rotan selama kurang lebih 20 tahun. Beliau merupakan seorang PNS yang sudah 7 tahun belakangan ini tinggal di lingkungan sekolah, karena aslinya Ibu Harisna telah tinggal lama di Kecamatan Lembak yang kira-kira memiliki waktu tempuh selama 2 jam dari sekolah.

Hampir seluruh guru PNS sebelumnya yang juga mendapat tugas mengajar di desa ini telah mengajukan surat pindah puluhan tahun yang lalu. Ibu Harisna tetap memilih bertahan dan menetap di desa, meskipun terkadang warga asli desa tidak terlalu menghargai kehadirannya. Rasa takjub bagiku semakin meningkat, sikap Ibu Harisna yang tegas kepada peserta didik, tak lantas membuat beliau menjadi guru yang ditakuti oleh anak – anak. Beliau juga terkadang mengajak ngobrol siswa selayaknya seorang teman.

Ibu Harisna sangat menghargai rekan-rekan guru di sekolah yang notabenenya bukan seorang PNS. Beliau selalu menghargai betapa susahnya mendidik seorang murid. Sehingga jika ada seseorang yang mengatakan jika guru tidak becus mengurus muridnya di sekolah, beliau lah akan maju paling depan untuk membela para guru. Sungguh sebuah dedikasi terhadap sesama rekan kerja yang sangat luar biasa.

Tidak hanya itu, Ibu Harisna sering sekali dengan suka rela menggunakan uang pribadinya sendiri untuk membuat ruangan kelas menjadi sedikit berbeda dari sebelumnya; lebih unik dan berwarna. Baginya, siswa itu harus merasa nyaman terlebih dahulu di kelas, agar proses belajar dan mengajar berjalan sesuai harapan. Aku tak habis pikir. Bagi guru yang sudah lama mengajar, rasanya sangat lah sulit untuk mengubah kebiasaan cara mengajar di kelas. Kebanyakan guru bertahan dengan cara mengajar klasik yang membosankan, tetapi tidak bagi Ibu Harisna. Beliau memang belum lah meninggalkan cara pengajaran dengan menggunakan metode klasiknya di kelas, namun jelas sekali nampak upaya yang dilakukan oleh Ibu Harisna. Setidaknya sekali dalam semingggu beliau selalu menciptakan suasana baru dalam proses belajar mengajar di kelas. Ibu Harisna juga adalah sosok yang membuat sekolah ini lebih ‘hidup’.

Satu kutipan menarik dan sangat berharga yang pernah aku dapatkan dari beliau bahwa “Belajar adalah kegiatan seumur hidup”. Oleh sebab itu, di sela-sela kesibukannya mengajar, mengurus anak, dan menjaga sekolah, Ibu Harisna selalu menyempatkan membaca buku setiap hari. Tidak hanya itu, bagi Ibu Harisna memberi banyak kepada sesama adalah upaya untuk mendapatkan lebih banyak kebaikan untuk kita sendiri. Hal tersebut sangat lah jelas terasa, dimana ketika hari gajian tiba, Ibu Harisna selalu menyisihkan sebagian rejekinya untuk kepada orang lain; khususnya sesama rekan guru di sekolah penempatanku. Hal baik tersebut pun menular ke guru – guru yang lainnya. Sehingga kesenjangan sosial antara guru PNS dan non PNS sedikit bisa teredakan dengan kebaikan – kebaikan yang Ibu Harisna budayakan.

Kegiatan mengajar di SDN 12 Sungai Rotan memanglah hal yang biasa bagi Ibu Harisna. Hal yang luar biasa bagiku adalah saat mengetahui jika Ibu Harisna pun turut aktif membangun PAUD bersama salah seorang guru lainnya di sekolah dan juga menjadi Kades Posyandu di desa. Sekali lagi aku tekankan bahwa Ibu Harisna bukanlah penduduk asli, namun kepeduliannya terhadap desa dan masyarakat sekitar sangatlah besar. Beliau ingin anak-anak di desa bisa tumbuh dengan baik dan juga bisa belajar dengan layak.

Beliau pun sangat senang, ketika sekolah mendapati aku untuk hadir di sana dan menjadi seorang Guru Pengabdi di sekolah tersebut. Bagi Ibu Harisna, kehadiran Guru Pengabdi membuat anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu belajar di sore hari ketimbang bermain.

 

(Salut untuk sosok Ibu Harisna dan mungkin juga orang – orang hebat di luar sana yang seperti Ibu Harisna : meninggalkan zona nyamannya, pergi dan memilih menetap jauh dari lingkungan keluarga untuk memperjuangkan nasib anak bangsa. Untukmu yang masih ragu untuk keluar dari zona nyaman demi menebar manfaat lebih banyak untuk orang sekitar, semoga kisah Ibu Harisna bisa terus kamu ingat. Bahwa hidup bukan hanya untuk kita sendiri, memperjuangkan kebaikan orang lain adalah serupa menanam benih kebaikan untuk diri kita sendiri. Jika belum bisa kita petik dalam waktu dekat ini, suatu saat hasil terbaiknya pun akan datang menghampiri. Salam dari saya, Jajang Jaelani).

Hidup dan Berpetualang

Saat kecil, aku termasuk anak rumahan; jarang bepergian atau berkegiatan di luar. Sebagai anak terakhir di keluarga, aku juga cukup merasa dimanjakan dengan segala apa yang ku minta, kemudian diada-adakan, agar aku lebih betah di rumah daripada main di luar. Padahal kedua orang tuaku bukan lah termasuk orang yang sangat berada.

Selepas masa SMA, tibalah waktuku untuk merantau sendirian. Jarang berada jauh dari keluarga awalnya membuatku sering merasa homesick dan selalu ingin pulang ke rumah. Namun siapa sangka, seiring proses hidup yang terus berjalan, jadilah aku seorang petualang. Di perantauan, aku tak begitu nyaman berdiam lama di kosan, terlebih setelah aku tergabung dalam sebuah organisasi yang produktif dan banyak sekali program – programnya. Aku di kosan hanya untuk sekadar tidur, sisanya berkegiatan di luar.

Mulai dari sana, aku pun semakin berani, bahkan berani menuliskan impian – impian untuk menjelajahi lebih banyak lagi tempat – tempat baru yang tentunya semakin jauh dari rumah. Hingga selama berstatus mahasiswa awal di tingkat 1 dan 2, aku jadi pernah memiliki pengalaman tinggal semingguan di kota – kota luar Jawa Barat. Tiga hari sampai semingguan berkegiatan di Solo, Jogja, Surabaya, Kediri, Malang, Bali, hingga Lombok.

Menjelang tahun kelulusan, jiwa petualangku pun semakin terasah dengan berbagai kesempatan yang datang kepadaku untuk bisa bepergian ke luar Indonesia. Tak tanggung hanya beberapa hari saja, kegiatan di luar negeri pun biasanya memakan waktu beberapa minggu hingga bulan. Aku sempat lomba di Malaysia, Thailand dan Jepang, hingga pertukaran pelajar ke Amerika Serikat. Sungguh hal – hal yang tak pernah kuduga sebelumnya, terlebih mengingat masa kecilku yang lebih sering ku habiskan di dalam rumah saja.

Hidup dan petualangan tersebut, ternyata belum lah berakhir. Selepas menerima toga dan lulus dari universitas, garis takdir membawaku untuk bekerja berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya di Indonesia. Setahun aku bekerja di pedalaman Pulau Kalimantan, sempat beberapa bulan di Pulau Sumatera dan mencicipi udara segar desa kaki Bukit Barisan, kemudian kembali ke ibu kota, dan kini bekerja di Bali. Orang lain mungkin melihat bahwa hidupku teramat sangat menyenangkan : berpetualang – berpetualang – dan berpetualang.

Namun tahukah kamu, jika hidup dan terus berpetualang juga memiliki beberapa hal yang pros dan cons. Dalam tulisan ini, aku ingin sekali berbagi denganmu, tentang apa saja hal yang menarik dan menantang dalam melewati hidup yang penuh petualangan.

Continue reading

Kosan Murah di Bali, Emang Ada?

Hi, aku Je dan sejak awal Maret 2018, aku dipindahtugaskan kerja di salah satu pulau impian banyak orang untuk tinggal yaitu Bali. Setelah sekitar dua mingguan di awal perpindahanku ke Bali, aku tinggal di dormitory karyawan di salah satu resort bintang 5, kini aku tinggal di sebuah kosan imut dengan harga yang cukup terjangkau.

Mungkin sama seperti yang kamu bayangkan, aku juga sudah sempat punya pemikiran bahwa biaya hidup di Bali akan sangat mahal, salah satunya biaya tempat tinggal (kosan). Tapi apakah benar biaya tempat tinggal di Bali sangat lah mahal?

Jawabannya bisa IYA, bisa juga TIDAK. Jika kamu baru memutuskan untuk berkarir di Bali dan takut tidak bisa menemukan kosan murah, tenang saja di Bali sendiri masih ada cukup banyak kosan dengan harga yang relatif murah, khususnya di Daerah Jimbaran.

Jimbaran terletak di Bali bagian selatan. Letaknya di selatan Bandara I Gusti Ngurah Rai, hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit perjalanan dari bandara. Merupakan kawasan wisata pantai, Jimbaran dikelilingi oleh banyak sekali hotel – hotel dan resort mulai dari bintang 3 sampai bintang 5. Oleh karena itu, banyak sekali orang akan beranggapan bahwa biaya tinggal di Jimbaran pasti akan sangat mahal. Namun nyatanya tidak juga.

Selain dilingkupi banyak bangunan hotel mewah, Jimbaran juga memiliki setidaknya dua lokasi kampus ternama di Bali, yakni Universitas Udayana dan Politeknik Negeri Bali. Hal ini yang membuat Jimbaran juga memiliki cukup banyak kosan atau kontrakan dengan budget mahasiswa. Biasanya letak kosan tersebut pun tidak akan jauh dari lokasi kampus, jadi membuatmu tidak susah untuk menemukan tempat makan atau hiburan.

Berapa sih kisaran kosan budget mahasiswa di Jimbaran? Kisarannya adalah Rp. 500.000 sampai Rp. 1.000.000/bulan. Harga kosan tersebut biasanya selaras dengan luas kamar dan isi (fasilitas barang – barang) di kamar tersebut. Kosan dengan harga Rp. 500.000/bulan atau dibawahnya biasanya adalah kosan kosongan dimana kamu harus menyicil sendiri membeli barang – barang perlengkapan kamar, seperti kasur dan sebagainya. Oh iya, kosan dengan harga segini juga biasa memiliki kamar mandi bersama yang terpisah dengan kamarmu nantinya.

Kosan dengan harga di atas Rp. 700.000/bulan biasanya kamu akan mendapatkan kamar dengan kamar mandi di dalam dan perlengkapan sederhana seperti kasur dan lemari. Aku mungkin termasuk orang yang beruntung karena bisa mendapatkan kosan dengan harga di bawah Rp. 700.000/bulan dengan kamar yang cukup luas dengan perabotan sederhananya, memiliki kamar mandi dan wastafel di dalamnya, selain itu juga harga tersebut sudah termasuk biaya listrik dan air bulanan.

IMG_20180304_172240

Tampak kamar pada saat sebelum di tempati

 

IMG_20180304_172250

Kosan imut ini juga memiliki wasfatel dan kalau kamu suka masak, bisa dipakai tempat masak

Ohiya, yang aku suka dari kosan  di Bali adalah halamannya. Sebagaimana konsep rumah Bali juga yang memiliki halaman luas di tengah – tengah, maka hampir semua kosan juga selalu memiliki space halaman bersama selain halaman kamarmu sendiri. Selain sebagai tempat parkir, space ini juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan bersama dengan anak – anak kosan lainnya, seperti bakar  ikan yang pernah aku lakukan dengan pemilik kosan dan beberapa tetangga kosan lainnya.

IMG_20180304_172434

Spot yang ku suka dari banyak kosan di Bali adalah halamannya, begitu pun dengan halaman di kosanku

Jadi masih ragu untuk memulai karirmu di Bali? Atau menjadi lebih semangat untuk merantau dan menetap di Bali?

ps: buat kamu yang berencana tinggal di Bali dan mau cari tempat tinggal, jangan lupa untuk menanyakan detail terkait fasilitas tempat tinggalmu, apakah biaya sewa sudah termasuk listrik dan air, karena untuk di Daerah Jimbaran sendiri yang lokasinya sangat dekat dengan pantai – pantai membuat daerahnya cukup kering dan sedikit air. Sehingga biaya kebutuhan bulanan untuk air pun mesti dipertimbangkan. Semoga bermanfaat!

Kerja di Bali? Gak Seru!

Hi, namaku Jajang Jaelani, biar lebih ringkas sebut saja Je. Akhir Februari 2018, aku memulai bekerja di tempat kerja baru; sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Florikultura yang kantor pusatnya berada di Jakarta. Hanya seminggu bekerja di Jakarta, aku mendapatkan tawaran untuk dipindah kerja ke Bali. Sebagai anak yang menyukai hal – hal baru, termasuk tantangan baru, akhirnya tanpa berpikir panjang aku terima tawaran tersebut.

Oh iya, sebelumnya aku juga pernah ke Bali di tahun 2015, namun hanya untuk sekadar transit liburan sebentar sebelum mengikuti kegiatan mahasiswa di Mataram, Lombok. Jadi jujur saja, hingga saat menerima tawaran pindah tersebut pun, aku tak memiliki banyak pengetahuan tentang Bali dan seluk beluk isinya.

Aku juga tak memiliki keluarga dekat atau bahkan sahabat yang tinggal dan bekerja di Bali. Modal nekat. Tak banyak barang yang ku bawa untuk menetap lama di sana, hanya sebuah tas punggung 35L berisikan pakaian dan dokumen – dokumen.

Awal Maret 2018 adalah waktu dimana aku kembali berada di Bandara I Gusti Ngurah Rai setelah melewati penerbangan di pagi yang cerah dengan suguhan pemandangan garis tegas hijaunya punggung pegunungan, tebing – tebing tinggi menjulang menghadang samudera, yang kemudian berganti hamparan pantai luas nan memanjang. Aku merasa beruntung!

Exif_JPEG_420

welcome back to Bali!

Di lain sisi, sebagai karyawan baru (pindahan) di Bali, aku sempat mendapatkan fasilitas tinggal satu minggu di dormitory karyawan yang terletak di tengah resort ternama di daerah Jimbaran. Dari sini lah, cerita petualangan hidupku di Bali dimulai.

Satu minggu pertama, rasanya terasa cukup berat; terlebih untuk masalah adaptasi. Lokasi dormitory yang jauh dari dan ke tempat umum membuatku terasa terisolir. Jarak dari dormitory ke kantor yang juga cukup jauh pun membuatku mesti diantar-jemput setiap harinya. Beruntung, saat itu ada salah satu rekan yang bersedia membantu, sampai setidaknya aku punya kendaraan entah itu nanti menyewa atau membeli sendiri.

Tantangan lainnya buatku sebagai seorang muslim minoritas adalah sholat. Awalnya, aku sempat kikuk dengan perbedaan agama yang ada. Hingga aku tak berani bertanya, apakah ada yang muslim juga, sehingga aku tahu dimana tempat sholat berada. Akhirnya pun, selama satu minggu itu pula, aku sering kali menggabungkan sholat pada waktu – waktu dimana aku bisa melakukannya sendirian di kamar; benar – benar menjadi sebuah pergejolakan batin yang cukup luar biasa saat itu.

Memang, ini bukanlah kali pertama aku berada pada situasi seperti ini, karena saat aku tinggal di luar negeri untuk mengikuti sebuah program pertukaran pelajar pun, aku sempat mengalami dan melakukan hal yang seperti ini; hanya saja ini terjadi di Indonesia bukan di luar negeri sana.

IMG_20180303_115815

kamar dormitory

Tantangan berikutnya adalah makanan. Aku termasuk seorang anak pemilih makanan. Tak sembarang makanan bisa ku makan. Terlebih di Bali sendiri, banyak sekali masakan olahan Babi yang aku komitmen untuk tidak ingin dengan sengaja mencicipi atau pun mengonsumsinya. Namun sayangnya, karena tinggal jauh dari area umum tadi menjadikan pilihan makananku menjadi lebih terbatas.

Inilah alasan – alasan mengapa kerja di Bali itu gak seru. Iya, gak akan seru kalau kamu tinggal ekslusif dan jauh dari area umum. Kamu tidak tahu keberagaman di luar seperti apa, bahwa ternyata di Bali pun banyak sekali pendatang, terlebih dari Jawa Timur yang siap menyediakan jenis makanan halal yang bisa kamu konsumsi di warung – warung mereka.

Kedua, kerja di Bali juga gak akan seru. Kalau kamu tidak memiliki kendaraan dan hanya bergantung dari tebengan teman kantor saja. Kamu jadi tidak bisa menjelajah sampai ke tempat – tempat yang hanya bisa dijelajah dengan intuisimu sendiri. Oleh karena itu, kerja di Bali memang gak akan seru, jika kamu hanya kerja kemudian pulang, besoknya lagi kerja lalu pulang, dan begitu pun seterusnya.

Ohiya, judul tulisan ini hanyalah click-bait. Menurutku, apa pun dan dimana pun kamu kerja, selagi kamu bisa merdeka menjadi dirimu, berpetualang di sela kesibukanmu, pergi kemana pun kamu mau, semuanya akan terus terasa asik dan seru kok! Jadi, masih tertarik pindah kerja ke Bali?


 

(Berikutnya, aku akan coba cerita bagaimana susah dan gampangnya mencari kosan murah di Bali. Tetap setia membaca tulisan sederhana di blog ini yah! Because sharing is caring, happy reading…..)

#1 Senin di ‘98

SUARA riuh terdengar keras. Ketika bangku – bangku mulai diturunkan dari atas meja, kemudian tas – tas mungil mulai mengisi hampir semua kursi kayu tersebut.

Beberapa Ibuk nampak masih belum bisa meninggalkan anak – anaknya, meski lonceng dari besi tua telah dibunyikan dan setiap murid baru juga harus mengikuti upacara bendera perdana mereka. Ini adalah upacara bendera pertama bagiku. Kini aku memasuki kelas 1, meskipun umurku masih terlalu kecil untuk dilepas Bapak – Ibu.

Ibu sempat mengantarku sebentar pagi tadi. Menitipkanku pada Bu Guru sambil terus mengucapkan pada orang tua lainnya yang turut mengantarkan anak – anak mereka, bahwa aku hanyalah dititipkan di sekolah, tidak untuk belajar, hanya agar aku memiliki teman bermain. Beberapa teman main yang juga tetanggaku, banyak yang mulai masuk sekolah tahun ini.

Upacara sudah siap dimulai. Anak-anak dari kelas 1 sampai 6 sudah berbaris rapi membentuk huruf U, petugas upacara dan para guru pun sudah berbaris rapi membentuk satu barisan terpisah di sudut depan lapangan upacara. Sekolah itu, SDN II Maleber tidak memiliki pasukan aubade khusus; biasanya adalah anak-anak kelas 5 dan 6 lah yang menjadi pasukan paduan suaranya.

Aku yang masih berusia 5 tahun dan belum pernah rasanya berdiri lama di lapangan, tak tahan. Jika ada angin bertiup ke kanan, kaki mungilku kan juga turut goyang ke kanan, jika angin bertiup ke kiri, kakiku kan goyang ke kiri. Persis juga di belakang barisan kami adalah tempat parkir kuda delman di Pasar Senin. Jika sudah bosan menatap ke depan, aku dan teman – temanku juga akan sering menoleh ke belakang, melihat pemandangan yang lebih seru kala itu; Kuda Gagah Delman Pak Abu.

[PEMUDA MASA KINI : ANAK PANAH VS PERAHU KERTAS]

Masa muda adalah gerbang menuju masa penentuan. Dimana di masa muda lah setiap jalan – jalan yang dipilih dan dilalui bisa sangat menentukan ke tempat mana selanjutnya kita akan menuju. Oleh karena itu, menjadi sebuah hal yang wajar ketika para pemuda sering kali merasakan galau akan kehidupannya, menemukan banyak kebingungan juga kecemasan.

 

Dalam menentukan masa depannya, para pemuda ini memiliki beragam sekali cerita. Namun dari kesemua cerita tersebut dapat dikelompokkan ke dalam dua grup besar, yakni grup anak panah dan grup perahu kertas. Masuk ke grup manakah kamu?

 

Grup anak panah adalah mereka (para pemuda) yang sebenarnya sudah merencanakan kehidupan mereka dengan sangat efektif dan efisien. Mereka menjadikan tujuan hidup mereka sebagai bidang tembak dan mereka merencanakan cara terbaik untuk menembak target tersebut. Para pemuda di grup ini percaya jika mereka mengikuti rencana yang telah mereka susun secara satu per satu, pada akhirnya mereka akan mencapai sasaran dalam waktu yang lebih cepat, selayaknya anak panah yang meluncur ke arah targetnya. Namun kelemahan dari grup ini adalah mereka yang selalu memiliki kecemasan besar akan jalan yang mereka pilih ini adalah jalan terbaik dan tercepat untuk meraih tujuan mereka atau tidak. Selain itu, karena rencana hidup yang sudah sangat tersusun rapi, membuat para pemuda di grup ini biasanya enggan untuk mencoba lebih banyak kemungkinan lain yang sebenarnya bisa mereka pilih.

 

Grup kedua yakni grup perahu kertas adalah mereka (para pemuda) yang sering kali merasa hilang arah. Masalah yang sering dialami oleh grup ini adalah tujuan hidup yang tidak jelas. Sama halnya seperti sebuah perahu kertas yang diletakkan di atas aliran air, mereka akan mulai mengikuti alur yang ada dan bergerak tanpa tujuan. Tipe perahu kertas adalah mereka yang justru biasanya lebih serius dalam menjalani kehidupan di masa kini, sehingga mereka tidak terlalu ingin membebani pikiran mereka tentang rencana – rencana jangka panjang. Mereka tidak dapat membuat rencana yang matang untuk masa depan mereka karena pandangan mereka akan masa depan terus menerus berubah.

 

Jebakan terbesar dari para pemuda di grup kedua ini adalah kemalasan. Setelah merasa bingung dengan tujuan dan cara mencapai tujuan, serta gagal dalam mendapatkan sebuah jawaban, kebanyakan dari mereka akhirnya akan mengangkat tangan dan menyerah. Jika pikiran tersebut berlangsung selama beberapa hari, akan membuat mereka mengalami kecenderungan untuk bermalas-malasan. Padahal, ketika kemalasan menjadi bagian dari sebuah rutinitas, maka kita akan lebih sering menyalahkan diri, dimana kita tahu bahwa tidak seharusnya kita begitu, dan semua yang pernah ada dalam pikiran mengenai arah tujuan hidup, kemudian akan menghilang.

 

Lalu manakah yang lebih baik? Grup paling ideal sebenarnya adalah menjadi orang yang tidak tergabung ke kedua grup tersebut, namun menjadi tipikal orang yang berada di tengah keduanya. Ingatlah bahwa hidup tidak selalu tepat meraih tujuannya, seperti anak panah yang tepat mengenai targetnya. Ingat pula bahwa hidup tidak mengalir tanpa arah dan tujuan, seperti halnya perahu kertas. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membuat kita menjadi terbuka dan mampu menerima segala bentuk pengalaman baru, menyadari ke mana arah yang kita ambil, dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan. Semoga dengan menjadi pemuda tipe ini, kita masih memiliki arah yang jelas ke depan, namun juga masih mampu menikmati hidup masa kini dengan baik.

 

{Sebagian banyak dari tulisan ini merupakan rangkuman dari sebuah buku berjudul “Time of Your Life” karya Prof. Rando Kim}