Sampai Jumpa 30 Laskar ‘Bocil’ Kamawakan

Di awal minggu ke-6 pelatihan intensif CPM XII, di sesi sharing dengan pendamping daerah, aku ditunjukkan sebuah file yang berisi data hasil assessment sekolah dimana aku beserta rekan-rekanku akan ditempatkan. Aku merasa sangat tercerahkan dengan mendapatkan lebih banyak gambaran terkait seperti apa kondisi desa dan sekolah penempatanku nanti selama setahun ke depan.

Aku akan bertugas selama setahun di SD Negeri Kamawakan. Letaknya berada di Desa Kamawakan, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Berjarak sekitar 40 KM dari Kandangan yang merupakan ibukota kabupaten di Hulu Sungai Selatan. Di SD Negeri Kamawakan nanti aku akan berjumpa dengan 30 orang murid-muridku di sana. Ya, dari 6 kelas di sekolah kami hanya memiliki 30 orang murid saja. Dengan letak geografis yang cukup menantang karena berada di wilayah pegunungan dan hanya bisa diakses dengan menggunakan kendaraan roda dua menjadikan sekolah ini membuatku semakin merasa tertantang.

Walau dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang ada, entah kenapa aku justru memiliki ambisi dan semangat besar untuk bisa mengenalkan sekolahku ini ke khalayak ramai. Aku ingin agar lebih banyak orang bisa mengenal sekolah tempat aku mengajar nanti dengan segala cerita luar biasa di dalamnya. Aku bercita-cita supaya ada di antara ke-30 laskar ‘bocil’-ku nanti yang akan mampu menaruhkan namanya di catatan prestasi siswa SD se-Kalimantan Selatan.

Untuk laskar ‘bocil’-ku di Kamawakan, dengan segala ketulusan hati aku akan datang. Semoga kalian menerimaku dengan lapang dan senang. Semoga ada cerita-cerita luar biasa dari kalian yang bisa ku bagi dan ku kenang. Hingga banyak orang sadar bahwa keterbatasan tidak akan selalu menjadi sebuah penghalang. Penghalang untuk terus berjuang dan menjadi seorang pemenang.

Tentang Mereka, Orang-Orang Luar Biasa

Children would always be like a mood-booster…

 

Setiap anak ataupun siswa adalah sumber belajar dan kebahagiaan yang tak terbatas. Banyak hal yang bisa ku pelajari bahkan dari hanya memperhatikan mereka dari jauh.  4 hari yang luar biasa bagiku untuk bisa mengajar di kelas, berinteraksi dengan anak-anak dalam jumlah tatap yang tak berbatas pula. Ku temui banyak guru baru dalam hidup yang mampu mengajarkanku akan sebuah kesabaran, kepekaan, kepedulian, cinta yang tulus, dan persahabatan yang tak pernah dibatasi oleh sebuah persepsi sebelah mata.

 

Setiap anak bagiku terasa amat istimewa. Tidak ada diantara mereka yang terlahir bodoh atau nakal, karena aku selalu yakin bahwa setiap anak itu akan hebat andai saja mereka bisa menemukan cara untuk mengasah potensi yang mereka miliki. Dan sungguh bagiku, ini adalah tanggung jawab dan kewajiban bagi mereka para orang dewasa.

 

Dengan penuh kebersyukuran aku dipertemukan dengan seorang assessor atau tim penilai kegiatan pengajaranku di SD Tantina, Jatiluhur, Purwakarta yang sangat luar biasa. Banyak pelajaran yang ku petik dari cerita hidup maupun pengalaman mengajar mereka. Mereka adalah Kak Vivi Hutauruk, salah seorang guru SMP di salah satu sekolah di Jakarta, juga alumni program master of education di Texas, Amerika Serikat. Aku juga belajar dari seorang Mas Danang Ikhsan, salah seorang guru SD dari Banyuwangi yang telah memiliki pengalaman mengajar yang sudah sangat luas.

 

Satu hal yang ku ingat sampai saat ini, tentang apa yang ku alami ketika aku telah menghabiskan waktu 3-4 hariku menjadi seorang pengajar di sekolah dasar dan dengan mendapatkan feedback yang disampaikan oleh tim assessor bahwa jika pendidikan merupakan hak segala bangsa, maka mendidik pun adalah kewajiban dari setiap bangsa. Aku masih tertegun dengan pilihan hidup Kak Vivi yang telah menyelesaikan studinya di Amerika Serikat, yang memiliki potensi besar untuk bekerja di sektor non pendidikan yang jauh lebih menawarkan kemewahan dan pangkat hidup yang lebih tinggi, namun ia lebih memilih untuk menjadi seorang guru SMP. Aku masih ingat setiap detail cerita yang disampaikannya dengan terbata-bata, seperti sedang berusaha memanggil semua memori masa lalunya dan berusaha mengumpulkan banyak energi untuk ditransferkan kepada kami, para calon pengajar di daerah pelosok.

 

Bahkan di US pun guru sekolah dasar tak sedikit dari mereka yang merupakan lulusan S3 bergelar PhD. Namun miris ketika di Indonesia sendiri, orang-orang hebat justru malah lebih memilih mengambil perannya di tingkat atas, bukan memilih meningkatkan hal-hal yang sifatnya dasar seperti menjadi seorang guru contohnya.

 

Memori perjalanan hidupku seakan terbangun kembali. Masa dimana sedikit saja dari bagian cerita hidup yang sempat aku habiskan untuk tinggal di Amerika Serikat. Kala ku melihat bahwa pendidikan dasar sudah sepatutnya perlu diperhatikan oleh mereka yang memiliki tingkat pendidikan setinggi mungkin. Aku kembali teringat kala melewati salah satu sekolah dasar di Ames, Iowa. Aku melihat bahwa tak jarang guru-guru disana yang memang sudah tak muda, bergelar lulusan S3, namun tak segan untuk menjadi seorang pengajar di sekolah dasar.

 

Dalam hatiku terus menguatkan, “Jika saja ada banyak Kak Vivi – Kak Vivi lain di Indonesia. Jika saja aku pun seberani itu untuk memilih pilihan menjadi seorang pendidik yang tak hanya selesai sampai program Indonesia Mengajar ini selesai. Mungkin saja kah, perubahan besar di negeri tercinta ini akan terjadi?”

 

Purwakarta, 14 Mei 2016

 

Jajang Jaelani

Biarkan Mereka Mendengar Ceritamu Bukan Membaca Resume-mu

*terinspirasi dari buku Time of Your Life karya Prof. Rando Kim

 

IMG_20160408_211755

 

Sore ini saya masak kue ceritanya. Kemudian beberapa saat kue matang, lamunan terbang ke sebuah ruang interview kerja. Ada saya dan interviewer perusahaan tentunya. Beberapa orang dan saya pada awalnya mengira bahwa kesempurnaan sebuah resume atau CV adalah hal mutlak yang bisa mengantarkan kita pada sebuah pekerjaan baik di perusahaan hebat. Ya, bahkan dulu saat baru masuk kuliah, kami anak-anak baru berbondong-bondong mengikuti seminar ini dan itu dengan motif mendapatkan sertifikatnya dan kemudian akan kami tulis di lembar resume kami nantinya.

 

Pada akhirnya di ruangan yang cukup dingin namun terasa panas karena tegang itu, saya sadar. Boleh saja memiliki resume sebaik apa pun, tapi alangkah jauh lebih baik ketika orang lebih tertarik untuk mendengar cerita kita dibandingkan hanya membaca resume kita.

 

Interview diawali dengan beberapa pertanyaan formil, layaknya pertanyaan-pertanyaan yang biasa dan akan ditanyakan kepada setiap orang. Kemudian tibalah pada pertanyaan dimana interviewer menanyakan pengalaman ketika masih menjadi mahasiswa. Ya, hanya sedikit saja saya menjabarkan isi resume saya, karena saya ingin menceritakan hal lain yang tidak akan interviewer itu temukan di dalam resume tersebut; hobi memasak salah satunya.

 

Sebagai seseorang yang melamar untuk sebuah posisi di perusahaan pangan bertaraf multi nasional ternyata dengan cerita memasak jauh lebih menjual daripada menceritakan isi CV. Bukan, bukan karena saya hobi memasak kemudian saya pada akhirnya diterima di perusahaan pangan tersebut. Pada suatu buku saya sempat membaca bahwa, “sebuah perusahaan dengan strategi pemasaran yang baik tidak akan pernah menyombongkan produk mereka hingga taraf yang tidak berguna”. Begitupun seharusnya dengan kita. Bukan semakin banyak lembaran CV yang bisa kita tulis, maka kita akan dinilai semakin baik atau kita bisa menceritakan semuanya. Karena akan menjadi percuma ketika orang hanya membaca CV kita tetapi tak membuatnya tertarik untuk mendengarkan cerita kita.

 

Notes: di luar sana bahkan mungkin banyak pembaca tulisan ini yang jauh lebih hebat dan lebih pantas untuk menuliskan hal sejenis dibanding saya. Namun berakar dari keresahan yang ingin saya bagikan bahwa janganlah ‘menuhankan’ resume-mu. Bukan itu yang teramat penting bagimu, bukan. Jangan lah terlalu sibuk ikuti seminar ini itu atau ikut banyak organisasi disana-sini kalau hanya dengan motif membuat resume-mu nampak lebih baik dan sempurna.

Sharing Session V : Learn How to Get Ready as A Public Speaker (part 1)

Berbicara tentang public speaking, pastilah hampir setiap orang akan bertemu dengannya minimal sekali dalam hidup, baik itu hanya sekadar maju ke depan kelas memberikan pengumuman, maupun disuruh guru untuk bercerita di depan kelas. Bagaimana dengan pengalamanmu? Berbicara di depan umum, tidak gampang bukan?

Pada sesi ini, saya ingin berbagi sedikit ilmu dan pengalaman yang sempat saya dapat mengenai “bagaimana agar siap untuk bisa berbicara di depan umum”. Dalam tulisan ini akan lebih saya fokuskan kepada hal-hal yang perlu dan mesti dilakukan pada saat kita presentasi.

Nah, tau kah kamu bahwa seorang Steve Jobs, CEO Apple Inc. pun menurut sebuah informasi membutuhkan waktu minimal 2 hari untuk mempersiapkan presentasinya. Jadi, dapat kita bayangkan betapa sangat beresikonya kita yang tak memiliki jam terbang se-tinggi itu namun masih malas untuk mempersiapkan diri untuk sebuah presentasi. Jadi langkah pertama yang harus kamu lakukan ketika akan presentasi adalah : persiapan.

1. PERSIAPAN

Ada setidaknya 3 hal yang mesti kamu persiapkan, diantaranya adalah persiapkan slide atau media presentasi, perdalam dan pelajari materi, serta tuliskan skrip persentasi dan skenario yang akan kamu bawakan.

Dalam persiapan slide maupun media persentasi, buatlah slide sebaik mungkin. Slide maupun media persentasi yang baik secara sederhana dapat dibuat dengan tidak terlalu banyak menuliskan kata-kata dan lebih banyak menampilkan gambar maupun video yang bisa lebih menarik perhatian audiens. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa, jika seseorang melakukan presentasi dengan menampilkan banyak gambar di slide-nya, maka isi slide tersebut akan lebih gampang diingat, karena audiens biasanya akan mampu mengingat hingga 95% apa yang mereka dengar dan lihat, bukan apa yang mereka baca.

Perdalam dan pelajari materi merupakan suatu kewajiban bagi seorang presentator ketika ia hendak presentasi, karena jika pemateri sendiri tidak begitu memahami isi materi yang dibawakannya, maka jangan harap audiens akan mengerti mengenai pa yang ia sampaikan.

Persiapan selanjutnya adalah menuliskan skrip persentasi. Biasanya banyak sekali orang yang malas untuk menuliskan skrip presentasi mereka. Padahal menurut sebuah penelitian menyebutkan jika kita mendedikasikan waktu 70% dari 100% waktu total persiapan kita untuk presentasi, maka kita akan mampu menciptakan sebuah presentasi yang lebih baik. Tulisan skrip presentasi sangatlah diperlukan baik pada saat latihan maupun pada saat kita on the stage. Dengan menuliskan skrip, pada saat latihan dan presentasi kita akan tetap fokus dan tidak melebar menjelaskan kemana-mana. Begitupun dengan menuliskan skenario skrip. Maksud dari skenario skrip ini adalah kita menyiapkan beberapa materi yang tidak kita tuliskan di slide namun kita persiapkan, hanya jika dibutuhkan untuk disampaikan. Misal, waktu prsentasi kita masih cukup banyak, atau audiens kurang memahami materi kita sebelumnya.

2. LATIHAN

Sebuah pepatah mengatakan bahwa, “practice makes perfect”. Tanpa melakukan latihan-latihan kita tidak akan pernah bisa tampil sempurna. Ada beberapa hal yang mesti kamu latih selain dari latihan menyampaikan isi presentasimu sendiri, yakni latihan menebak pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ditanyakan serta berlatih cara menjawab setiap pertanyaan tersebut. Latihan skenario kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi saat persentasi juga perlu dilakukan, seperti skenario ketika alat persentasi yang kamu gunakan rusak, slide yang tidak terbaca, audiens yang gaduh, dan skenario-skenario buruk yang mungkin terjadi lainnya.

Ada beberapa teknik latihan persentasi yang bisa kamu lakukan, diantaranya adalah latihan sendiri di depan cermin dan merekam setiap kegiatan latihan. Teknik ini sangat efektif untuk mengetahui gesture atau cara pembawaan persentasimu apakah sudah enak dipandang atau belum. Hasil rekaman latihan juga bisa didengarkan ulang dan dapat kamu jadikan bahan evaluasi, apakah setiap ucapanmu sudah baik, artikulasinya jelas atau tidak, bahkan adakah kata-kata yang sering kamu ucapkan berulang-ulang padahal tidak begitu penting. Hasil evaluasi bisa dijadikan bahan perbaikan pada latihan-latihan berikutnya.

Teknik lainnya adalah latihan bersama teman. Teknik latihan ini bisa kamu lakukan jika memang ada teman yang bersedia untuk bisa menemanimu latihan. Jika bisa dilakukan, tentu sangatlah bagus. Seorang teman yang menemanimu latihan dapat menjadi multiperan, baik sebagai penanya maupun pengevaluasi. Pilih seorang teman yang jujur, sehingga ketika pada saat latihan ada hal-hal yang dia tak mengerti maka dia akan menanyakannya kepadamu terlebih dahulu sebelum kamu ditanya oleh banyak audiens, atau saat persentasimu kurang baik, ia akan mengatakannya kurang baik dan bisa memberikan saran untuk membuat persentasimu lebih baik.

3. CEK DAN BACA KONDISI RUANGAN

Hingga pada saat waktumu untuk persentasi tiba, hal pertama yang seharusnya kamu lakukan adalah mengecek dan membaca kondisi ruangan tempat kamu akan presentasi. Hal tersebut sangatlah baik sekali untuk dilakukan, sehingga kamu bisa beradaptasi terlebih dahulu dengan ruangan maupun lingkungan tempat kamu akan presentasi. Ingatlah sebuah pepatah yang mengatakan bahwa “familiarity breeds comfort”!

Ada beberapa tips yang dapat kamu lakukan dalam hal mengecek dan membaca kondisi ruangan persentasi. Pertama adalah tiba minimal 10 menit sebelum kamu akan presentasi dan berusahalah untuk mingle dengan orang-orang disekitarmu. Kamu bisa datang lebih awal dan memperkenalkan diri dengan beberapa orang di ruangan tempat persentasi. Hal tersebut baik untuk dilakukan agar kamu bisa tau setidaknya seperti apa kondisi audiens di ruangan itu, selain itu juga ketika kamu sudah bisa merasa akrab dengan beberapa audiens, maka kepercayaan dirimu dan kenyamanmu untuk presentasi akan lebih bertambah.

Jika kamu mendapat jadwal presentasi di tengah-tengah sesi acara, kamu bisa datang lebih awal yakni pada saat coffee break. Pada waktu tersebut kamu juga bisa melakukan final check media presentasimu, apakah slidenya sudah siap dan bisa terbaca atau tidak, apakah ada podium atau bangku sehingga kamu bisa menerapkan skenario mana yang akan kamu pilih saat kamu persentasi, berdiri di podium atau sambil duduk di sofa, dll.

Nah, demikian hal-hal yang bisa kamu persiapkan sebelum kamu berada di atas panggung maupun di depan audiens ketika kamu akan presentasi. Lalu bagaimana kah cara menjadi seorang public speaker yang baik dari mulai mengawali presentasi hingga mengakhirinya? Tunggu tulisan sharing sesi berikutnya yang akan berbagi mengenai hal-hal yang harus kamu lakukan pada saat presentasi.

Sebagai media berbagi, kamu bisa membagikan tulisan ini kepada lebih banyak orang dan jika perlu untuk berdiskusi bisa memanfaatkan kolom komentar di bawah ini.

Semangat berbagi,

Jajang Jaelani

Yang Menyilaukan dan Untuk Kau Lepaskan

Pernahkah suatu kali kamu makan di tenda-tenda warung makan pinggir jalan pada malam cerah? Di sana pasti kita akan menjumpai sekelompok ngengat yang begitu asyik terbang menghampiri cahaya lampu yang sangat terang. Ngengat-ngengat itu terbang berusaha mendekati sumber cahaya namun pada akhirnya mereka mati karena terkena kejutan listrik. Mereka banyak mati bertumpukkan di bawah sinar lampu, sebagian dari mereka masih mengeluarkan suara ‘ngiung’ akibat dari sengatan listrik, tetapi masih banyak ngengat yang terus saja berterbangan menuju arah cahaya. Itulah yang dinamakan dengan “efek induksi cahaya”. Ngengat-ngengat tertarik pada cahaya, seakan-akan cahaya itu adalah takdir mereka, meski pada akhirnya mereka mati karenanya.

Di suatu suku di Indonesia memiliki suatu cara menarik dalam berburu kera. Mereka biasanya menebar botol yang berisi sedikit makanan di wilayah buruannya. Bayangkan ketika kita memasukkan tangan kita ke dalam botol tersebut, tangan kita tidak akan bisa keluar dari mulut botol jika kita mengepalkan telapak tangan kita tersebut. Pemikiran itulah yang dimanfaatkan para pemburu untuk menangkap kera buruannya. Kera-kera akan merasa tergoda untuk memasukkan tangan mereka ke dalam botol, mengambil makan dalam botol dalam gengaman mereka, dan pada akhirnya mereka tidak bisa mengeluarkan tangannya dari botol. Hingga para pembuu akan lebih mudah menangkapnya. Padahal jika saja para kera mau melepaskan genggamannya, mereka sebenarnya bisa melapaskan tangan mereka dari botol tersebut. Tetapi para kera tidak melakukannya.

Ada hal yang ingin aku bagikan dari dua cerita tadi. Kejadian yang mungkin akan kita anggap bodoh untuk dilakukan, namun jika saja kita melihat kepada diri kita sendiri, kita pun sering melakukan hal yang serupa. Banyak dari kita yang mencoba lari secepat mungkin menuju arah cahaya keinginan kita, mengambil apa yang kita inginkan dengan genggaman kita dan tak ingin melepaskannya barang sedetik pun, hingga akhirnya hidup kita pun akan hancur dalam seketika.

Apa yang menyilaukanmu terkadang adalah hal yang membutakanmu. Uang, popularitas, ataupun kekuatan yang kita kejar bahkan bisa saja bukan lah sesuatu takdir baik bagi kita. Ada kalanya kita perlu mengontrol diri, mengamati kejadian baik maupun buruk dari pengalaman hidup yang lain, memetik hikmah, dan merasa cukup untuk bersyukur. Ada kalanya kita tak perlu memiliki semuanya. Ada kalanya pula kita harus melepaskan sesuatu yang tak mau kita lepas, padahal jika kita terus mengenggamnya ia malah akan mencelakakan kita. Bukan kah hidup juga adalah tentang selalu memetik pembelajaran dan hikmah?

Terinspirasi oleh Prof. Rando Kim dalam Time of Your Life.

Tentang Doa dan Kecemasan

Mungkin setiap orang dari kita sempat merasakan kecemasan dalam hidupnya yang setiap saat bisa kita temui. Bahkan kita juga mungkin sering sekali mencemaskan doa-doa yang takut tak terjawab. Aku sempat membaca sebuah analogi tentang doa dan kayuhan sepeda. Seseorang berkata bahwa berdoa adalah serupa dengan kita mengayuhkan kayuhan sepeda, tidak cukup sekali atau dua kali; kita butuh lebih banyak dari itu. Seringnya kita mengulang dan mengulang doa-doa kita akan serupa dengan seringnya kita mengayuh dan terus mengayuh kayuhan sepeda kita, kayuhan yang berulang-ulang tersebut lah yang pada akhirnya bisa menyampaikan kita pada tujuan kita. Begitu halnya dengan doa yang terus menerus diulang, suatu saat ia akan sampai pada jawabannya.

Pernahkah kamu melihat fenomena berbeda di jaman sekarang, dimana banyak orang yang mengharapkan untuk didoakan melalui posting akun media sosialnya? Lalu apa pendapatmu? Menurutmu dia aneh dan berlebihan? Menurutku tidak, karena aku juga pernah melakukannya. Ada hal yang ingin sedikit ku jelaskan kepadamu, khususnya bagi mereka yang memanggap bahwa orang-orang seperti itu aneh dan berlebihan. Tahukah kamu bahwa terkadang setiap orang memiliki kecemasan dan keraguan akan dikabulkan atau tidaknya doa-doa mereka? Ya, keraguan tersebut lah yang membuat aku dan yang lainnya acap kali berusaha menitipkan harapanku dan juga keinginan-keinginanku melalui doa-doa orang lain. Bukan karena aku ragu bahwa Tuhan tidak akan menjawab doaku. Aku hanya sadar bahwa aku bukan lah seorang yang baik lagi sholeh yang doanya bisa langsung menembus langit. Mungkin saja dengan menitipkan doa pada orang lain dan pada banyak orang, orang tua, keluarga, sahabat, teman, atau siapa pun ada di antara doa-doa mereka yang sampai menembus langit. Ketika kita mampu menciptakan banyak peluang untuk doa kita terkabul, maka kesempatan doa itu menjadi kenyataan juga akan meningkat pula.

Menitipkan doa kepada banyak orang bagiku juga serupa usaha untuk menunjukkan pada Tuhan seberapa besar harapan dan keinginan kita untuk doa tersebut dikabulkan; serupa mengarak doa! Jadi ketika harapan dan keinginan kita terarak oleh seringnya doa-doa yang kita ulang dan juga oleh doa-doa yang kita titipkan pada orang lain, mungkin kecemasan tak terkabulnya doa akan sedikit berkurang. Sisanya, tinggal menunggu sambil terus berikhtiar. Jika memang harapan dan keinginan itu baik, Tuhan pasti akan menjawabnya. Bukankah Ia Yang Maha Mengabulkan Doa-Doa?

Tulisan ini terinspirasi oleh Fahd Djibran dalam Perjalan Rasa (Keinginan : 131-135).

Live Your Passion!

DSCF1227

Ketika aku mulai memasuki dunia perkuliahan, kata “passion” menjadi teramat sering ku dengar, di seminar-seminar, di lingkaran-lingkaran diskusi, bahkan di kelas. Aku tak begitu benar memahami apa yang sering orang-orang sebut itu. “Hiduplah dengan passion!”, “Kerjakan sesuatu sesuai dengan passion-mu!”, dan masih banyak lagi kalimat-kalimat lain yang ku ingat hingga saat ini.

Hingga akhirnya setelah lulus dari dunia perkuliahan baru ku mengerti mengapa kata passion begitu santer ku dengar saat ku berada di kampus bukan dimulai dari saat ku duduk di bangku SMA, SMP, ataupun SD. Karena dalam perspektif sempitku, passion ini memiliki hubungan yng angat erat terhadap jati diri dan masa perkuliahan adalah masa-masa dimana banyak anak-anak yang sedang menghadapi fase pencarian jati diri tersebut.

Jika mencari padanan kata passion dalam bahasa Indonesia menggunakan kamus bahasa Inggris, maka kita akan menemukan kata: gairah, kegemaran, semangat, nafsu, dan keinginan besar. Padanan kata tersebut bagiku tak mampu berdiri sendiri untuk disamakan dengan makna dari passion itu sendiri. Menurutku passion itu adalah gabungan dari semua padanan arti yang ada. ‘Melakukan sesuatu sesuai passion’ bukan hanya berarti melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang kita inginkan, atau apa yang kita gemari,lebih luas dari itu.

Aku sempat membaca sebuah buku yang menuliskan bahwa kata “passion” berasal dari bahasa Latin Medieval yang berarti rasa sakit. Tak ada penyangkalan yang bisa ku berikan terhadap padanan kata ini. Karena aku juga menyetujuinya, passion adalah juga nama lain dari penderitaan. Penderitaan yang justru tak akan pernah membuat kita kapok dan patah semangat untuk terus melakukannya. Ku ambil contoh bermain bola sepak. Bermain bola sepak memang menyenangkan, sama seperti ketika kita menjalani hidup dengan passion yang sesuai dengan kita. Namun mesti diingat bahwa ada penderitaan di dalamnya, anak yang bermain bola mereka harus rela diterpa panas matahari yang kadang membuat rambutnya berbau matahari, harus rela terjatuh entah karena diri sendiri atau diterjang lawannya, harus rela disenter bola yang bisa saja membuat muka mereka merah dan badan mereka sakit jika terkena olehnya, tapi penderitaan itu tidak begitu terasa, karena mereka melakukannya dengan penuh gairah, kegemaran, semangat, nafsu, dan keinginan yang besar.

Begitupun ketika seseorang mengatakan dalam seminar, “kerjakanlah sesuatu sesuai passion-mu!”. Ku harap kau akan mengerti bahwa itu bukan saja menyuruhmu melakukan hal-hal yang kau sukai saja. Ketika kamu gagal dalam sesuatu, kemudian dengan mudahnya kamu bilang bahwa,”aku tidak passion disana!”. Ingatlah lagi bahwa passion bukan hanya kegemaran, tetapi juga ada perjuangan dan keinginan besar di dalamnya.

Maka pesanku, teruslah hidupkan passion-mu, hidupkan keinginan besarmu. Kekuatan dari sebuah keinginan besar itu tidak dapat dianggap sepele. Guruku sempat berkata : “Kekuatan itulah yang akan menjadi petunjuk dalam menjalani hidupmu, menjadi penentu dari seberapa berhasilnya dirimu dalam meraih keinginanmu. Selama keinginan itu maish ada, selama itu pula selalu ada kemungkinan bagi mimpimu untuk menjadi nyata. Selama ada kemungkinan bagi mimpimu untuk menjadi nyata, maka tidak akan ada kenyataan yang terlalu berat untuk ditanggung.” (Prof. Rando Kim)

DSCF1660

Live your passion! Then there’s nothing impossible to make your dreams come true.