Be Brilliant after The Boredom

Have you ever felt the boredom? I guess everybody will say ‘yes’, especially for the people who are living in this era. When smartphone and gadgets become so important for everyone’s living.

When many people said that gadget is a stuff to reduces the boredom, but somehow they never thought that gadget its self was a source of the boredom; especially smartphone. Addicting of smartphone would make us enjoy in accessing and using it; anytime and anywhere we have opportunity or even we haven’t opportunity then we make it possible to use it.

Have you ever asked your self, how many times you check your instagram/facebook/twitter’s account in a day? Once, twice, ten times, or maybe hundred times? For what reason you always checking it? What would you like to do when you’re boring? Checking the social media, exactly : switching from one apps to another apps. Then we become a multi tasker.

I know people will judge me like a sarcastic people. But ok, then I write here at least to remind my self. From a seminar I heard that Dr. Daniel Levitin, neuroscience researcher said : everytime you shift your attention from one thing to another, the brain has to engage a neurochemical switch that uses up nutrients in the brain to accomplish that. If you’re attempting to multitask, doing four or five things at once, you’re not actually doing four or five things at once, because the brain doesn’t​ work that way. Instead, you rapidly shifting from one thing to the next, depleting neural resources as you go. Switching it with using a glucose but we have a limited supply of that stuff.

Through this post, actually I’d like to share about the boredom. I mentioned smartphone because nowadays people didn’t want to feel the boredom by accessing smartphone (too much). Manoush Zomorodi in one TED Talk session explained, “when we get bored, we ignite a network in our brain called the “default mode”. So our body, it goes on the autopilot when we’re boring, but actually that is when our brain gets really busy”. Let’s say when we’re boring, our brain is in the smartest and best condition to be used, right?. .

Dr. Sandi Mann, boredom researcher said: once you start daydreaming and allow your mind to really wander, you start thinking a little bit beyond the conscious, a little bit into the subconscious, which allows sort of different connections to take place, it’s really awesome actually. Is it positive, isn’t it?

So what we should do? Should we switch off our smartphone along the day, so we will get the boredom easily? Nope, here I want to invite you – together with me, to start to reduce our wasting time on smartphone to make it more productive. Yes, I know. Changing people’s behaviour in such a short time period is ridiculously ambitious.

But, a year ago, when I was still being a Pengajar Muda; living in a place that lack of internet access or even signal of mobile network, I lived happily and more productive than when I have come back to live in town. In often I miss that moments and now I am trying to make it become a reality.

Researchers at USC have found, they’re studying teenagers who are on social media while they’re talking to their friends or they’re doing homework, they are less creative and imaginative about their own personal futures and about solving societal problems. Whereas, CEOs in an IBM survey identified creativity as the number one leadership competency.

This, what I worried if it will happen to my children in my previous deployment area in their future. Because I know they are naturally great.

So, one of my focus in the future is also about the digital literacy : teaching people, especially kids, how to use technology to improve their lives and to self-regulate to be more productive. Because if they don’t decide how they’re going to use the technology, the platform will decide for them. They will become a slave pf the technology.

So, now let the boredom come to your life and just enjoy it.

This writing was inspired by Manoush Zomorodi a Journalist, when she was a speaker in one TED Talk session. Hopefully it will inspire you too.

Advertisements

Tentang Keinginan

“Tidak pernah terlalu terlambat atau terlalu cepat untuk menjadi siapa pun yang kamu inginkan. Selama masih ada kemungkinan bagi mimpimu untuk menjadi nyata, maka tidak akan ada kenyataan yang terlalu berat untuk ditanggung.” (Prof. Rando Kim)

Tentang keinginan. Percayakah kita bahwa kekuatan dari sebuah keinginan akan dapat menjadi petunjuk dalam menjalani hidup, menjadi penentu dari seberapa berhasilnya diri dalam meraih sesuatu. Namun tetap saja, banyak orang yang tak mempercayainya bahkan mencemooh kehadirannya. Banyak orang – orang hebat dan berhasil yang telah mengalaminya; ia memiliki sebuah keinginan besar – membuat keputusan yang tidak masuk akal menurut orang lain demi menggapai keinginannya, hingga pada akhirnya mereka bisa berdiri di puncak kehidupan tanpa ada yang memperkirakan sebelumnya. Itulah contoh – contoh hebat yang berhasil atas dorongan dari kekuatan sebuah keinginan.
Percayakah kamu, bahwa yang membuat segala perjuangan berbeda adalah kekuatan dari keinginannya. Bahkan sebuah pepatah ada yang menyatakan bahwa, “…hidupmu ditentukan oleh masa depanmu, mimpimu, dan keinginanmu…”.
Berbicara tentang kekuatan sebuah keinginan, taukah kamu nama lain dari sebuah kekuatan tersebut? Ia adalah Passion. Passion dalam bahasa Inggris berarti keinginan. Namun dalam bahasa Latin Medieval, passion adalah rasa sakit. Mungkin bisa saja keduanya memiliki hubungan. Karena saat kita memperjuangkan sebuah keinginan untuk bisa tercapai, mungkin kita akan sering menemukan banyak rasa sakit selama proses tersebut.

Tidak kah kamu tahu, betapa berdampaknya sebuah keinginan yang tak diwujudkan. Seperti pesan berikut :
“Perasaan kosong yang mungkin akan kamu rasakan kelak, jika kamu memilih karier bukan berdasar pada keinginan, melainkan berdasar pada pendapatan dan kompensasi yang ditawarkan.” (Prof. Rando Kim)

Mengapa kita harus lebih dahulu mementingkan pada keinginan dibandingkan pada sebuah tawaran pekerjaan yang menghasilkan banyak uang. Mungkin kutipan berikut bisa sedikit memberikan jawaban :

“Jangan bekerja keras demi uang! Bekerjalah dengan sungguh – sungguh, uang akan datang dengan sendirinya.” (Steve Jobs).

Masih kah kamu percaya akan sebuah keinginan dan kekuatan yang dimilikinya.

Jam Kehidupan

Pernah gak sih kamu bertanya pada dirimu sendiri, “sudah berapa lama kamu telah hidup di dunia ini?”, atau jika kamu punya jam weker, kira – kira kehidupan kamu telah/sedang menunjukkan ke jam berapa dan menit berapa kah. Seringnya kita berpikir untuk bisa mandiri sesegera mungkin saat ini, seakan kita tidak yakin dengan harapan di hari atau masa kemudian. Padahal, bisa jadi memang belum lah saatnya kita untuk bisa mandiri saat ini. Bisa jadi dari usia pula bahwa kita belum lah begitu matang untuk bisa mandiri sekarang.
Seperti aku yang saat ini berusia 24 tahun. Jika ku konversikan ke dalam waktu 24 jam, jarum jam kehidupanku masih lah menunjuk pada angka 07 : 12. Lalu bagaimana denganmu? Pukul 07 : 12 bukan lah waktu yang terlambat untuk bisa memiliki segalanya, melainkan pukul 07 : 12 merupakan waktu dimana biasanya kita sedang akan baru memulai semuanya. Jadi, belum bisa mandiri di usia 24 tahun bukan lah suatu kesalahan yang teramat fatal.
Menghitung jam kehidupan sangat lah mudah. Waktu 24 jam itu terdiri dari 1.440 menit. Jika kita membaginya dengan 80 (sebagai usia harapan hidup seseorang), maka 1 tahun dalam hidup adalah waktu 18 menit dari 24 jam. Contoh lainnya adalah seseorang yang beruisa 60 tahun. Jika 60 dikali 18 maka ia telah memiliki 1.080 menit yang artinya jam kehidupannya sedang menunjukkan pada pukul 6 sore; waktu dimana orang selesai dengan pekerjaannya. Jika kamu menemukan orang berusia lebih dari 60 tahun dan masih bekerja, maka ia seperti terus bekerja lewat dari jam 6 sore.
Kebanyakan orang merasa terkejut dengan jam kehidupan. Biasanya mereka tidak menyangka bahwa jam kehidupan mereka menunjukkan pada angka yang lebih awal, jauh dari apa yang mereka perkirakan. Dan kamu mulai menyadari saat kamu berkata. “semuanya telah terlambat!”, padahal ini belum lah terlambat. Masih ada waktu bagi kita untuk merubah segalanya.

Untuk Apa Kuliah? Di Kampus Terkenal Lagi?

Seorang sahabat sempat bercerita tentang kegalauannya setelah ia lulus kuliah; mau jadi apa atau mau kerja dimana? Ia merasa dengan bekal gelar sarjana saja rasanya tidak cukup, ya tidak lah cukup. Lalu seorang yang lainnya pun sempat bertanya; lantas untuk apa kita kuliah, di universitas ternama lagi? Apa yang sebenarnya universitas berikan kepada para mahasiswanya, kalau memang nanti setelah lulus, gelar kita tidak lah cukup berarti apa-apa?

Ketika di masyarakat termasuk di dalam lingkup keluarga saya sendiri, banyak sekali yang beranggapan bahwa yang harus dipelajari saat berada di universitas adalah tentang pengetahuan dan keterampilan dasar yang perlukan untuk melakukan pekerjaan nantinya. Seandainya saja begitu, maka dapat kita bayangkan akan begitu repotnya universitas untuk menyediakan beragam program studi yang sama banyaknya dengan jenis-jenis pekerjaan yang tersedia di luar sana. Jika ada seribu jenis pekerjaan, lalu mungkinkah universitas harus menyediakan seribu program studi pula yang akan spesifik mengajarkan mahasiswanya pengetahuan praktis yang langsung bisa diterapkan di dunia kerja dengan begitu saja?

Setelah melewati 5 tahun sebagai seorang mahasiswa dan cukup lama di kampus, pada akhirnya saya memiliki pemikiran dan pandangan sendiri mengenai deskripsi universitas menurut saya secara pribadi.

Universitas menurut saya bukanlah sebuah institusi yang akan memberikan kita pengetahuan, bukan pula tempat mereka mengajari sesuatu dengan tingkat kesulitan sedikit di atas pelajaran siswa kelas XII SMA. Namun, unversitas bagi saya adalah tempat kamu dan saya mencari kebenaran dan menemukan kebenaran akademis yang selama ini kita tidak mengetahuinya. Kita melakukan peecobaan ini, percobaan itu, bukan sekadar agar pengetahuan kita bertambah. Melainkan kita bisa mencari kebenaran dari apa yang kita pelajari dan yakini dari sebuah text book. Kemampuan menemukan kebenaran tersebut yang sehingga bukan lah menghasilkan bakat fungsional yang diinginkan oleh masyarakat maupun perusahaan, agar mereka bisa langsung bekerja secara teknis. Tetapi yang hendak diasah adalah bakat intelegensia dengan kemampuan analisis terhadap suatu permasalahan dan juga mengkritisinya dengan cara mencari kebenaran terhadap permasalahan tersebut.

Universitas didesain bukanlah untuk menghasilkan dan melatih CALON PEGAWAI sebuah perusahaan. Universitas adalah tempat para anak potensial tumbuh dan melatih kecerdasan serta kemampuan belajar mereka,sehingga mampu merengkuh semua jenis pengetahuan. Itulah kenapa, walau pun banyak sarjana pertanian misalnya tapi ia bisa sangat mahir bekerja di perbankan atau jurnalis. Saya bangga dan bersyukur bisa menempuh kuliah di kampus yang dikenal dengan Institut Pleksibel Banget. Ya, jangan salah kan kami mahasiswanya yang bekerja tidak selaras dengan mata kuliah yang kami ambil selama di perkuliahan. Karena bukan lah pengetahuan dasar yang kami kuatkan, namun daya intelegensi dan analisa kami yang sehingga bisa diterima di semua jenis pekerjaan.

Pesannya bagi yang sempat merasa salah jurusan atau terjebak di jurusan yang tidak diminati, jangan pesimis terhadap masa depan nanti! Juga buat mereka yang suka mengkritisi, mengapa pekerjaan setelah kuliah tidak in line dengan jurusan yang diambil, karena menurut saya rejeki tiap orang tidak selalu bergantung plek dari background apa yang telah direngkuh oleh orang tersebut. Dan juga universitas mencetak lulusan dengan beragam potensinya masing – masing, dengan kecerdasan dan kemampuan standar intelegensia mereka. Bukan mencetak robot yang siap bekerja spesifik pada satu jenis pekerjaan saja. #IMHO

Masa Muda

Tanggal 12 Agustus merupakan International Youth Day atau Hari Pemuda Internasional. Dalam rangka memperingati hari tersebut, saya coba tuliskan beberapa kutipan tentang ‘masa muda’ dari Buku Time of Your Life karya Professor Rando Kim, Seoul National University, South Korea. Untuk kemudian saya kembangkan dengan gaya tulisan saya sendiri.

Masa Muda adalah masa paling berharga dalam hidup, masa yang membuat para orang tua merasa iri dan menyesal tanpa kita tahu penyebabnya, hingga dalam lamunannya mereka sering berkata, “Ah, senangnya!”.

Bagi saya, masa muda merupakan masa dimana kita tak menyadari sedang berada dimana dan akan kemana. Masa dimana banyak diantara kita merasa galau bahkan merasa tertinggal. Sehingga kita ingin buru – buru melewatinya. Namun ternyata, saat masa tua tiba kebanyakan mereka malah lebih menyesal karena ingin mengulang masa mudanya. Jadi pesannya, “nikmatilah!”.

Kamu tahu mengapa masa muda ini menyenangkan?

Karena satu alasan : KESEMPATAN.

Ya, saya setuju. Bahwa benar masa muda merupakan masa dimana kita masih punya banyak kesempatan untuk mencoba. Namun sayangnya, saat kita mencoba kemudian gagal, banyak diantara kita tak berani lagi mencoba mengambil kesempatan yang lainnya. Hingga usia semakin bertambah, kita pun sadar bahwa kesempatan mencoba kita semakin sedikit karena sudah bukan usianya lagi. Contoh, saat kamu coba melamar sebuah program atau pekerjaan dengan batas umur tertentu, kemudian kamu sempat mengalami kegagalan dan tak mau mencobanya lagi. Hingga satu ketika usiamu telah melewati batas yang ditentukan, namun ingin mendaftar kemali, dan kamu baru merasa menyesal, mengapa tak mencobanya lagi dulu selagi bisa.

Berbicara tentang kesempatan, bagi saya jika seseorang ditakdirkan hidup dengan menanggung sejumlah kegagalan selama masa hidupnya. Maka mungkin masa muda adalah masa yang paling tepat untuk banyak mengurangi atau bahkan menghabiskan jatah (kesempatan) gagal dalam hidup kita. Mengapa? Karena dari banyak kegagalan tersebut bisa jadi membuat mental kita lebih kuat, bisa jadi membuat kita mendapat banyak hikmah dan pelajaran berharga untuk kehidupan masa tua kemudian. Dan gagal pada masa muda, masih menyisakan sebuah kekuatan fisik bagi kita untuk terus mencoba.

Masa Muda adalah masa – masa penuh konflik, ketika keinginanmu bertentangan dengan harapan dari orang – orang yang merasa dirinya mengerti lebih baik tentangmu daripada dirimu sendiri.

Begitu berharganya masa muda, sampai – sampai banyak orang – orang tua di sekeliling kita yang merasa khawatir, hingga mungkin tak membolehkan kita memilih ini atau memilih itu. Hal – hal tersebutlah yang sering menjadi konflik saat – saat ini. Dimana para anak muda berseteru dengan pilihan orang tuanya. Sekali lagi, niat para orang tua mungkin sangatlah baik. Mereka hanya mengharapkan masa muda kita lebih berarti.

Jika saja kita terlanjur berada pada kondisi tersebut dan kita yakin pilihan hidup kita adalah lebih baik. Maka jalani saja, tanpa harus memperbesar konflik dengan para orang tua. Namun tak hanya dijalani begitu saja, tetapi tunjukkanlah kepada mereka bahwa kita bahagia dan jika bisa tunjukkan prestasi atau raih nilai baik dari pilihan yang kita ambil. Karena sejatinya, jika anak – anak bahagia, para orang tua pun akan menuntut apa lagi? Disclaimer, pilih jalan yang memang secara aturan atau hukum tidak menyalahi. Jangan memilih semena – mena untuk kemudian tak mau bertanggung jawab dengan pilihan tersebut.

Apakah kamu pernah mendengar kata ‘passion’? Passion adalah pilihan jalan yang tetap saja kamu perjuangkan, meski bertentangan dengan orang tuamu atau orang lain, meski jalannya tak mudah, namun tetap saja kamu kejar dan jalani karena kamu merasa ini adalah jalanmu. Mungkin bisa jadi pilihan yang bertentangan itu adalah juga passionmu.

Masa Muda adalah masa dimana kalian berkonsentrasi untuk meraih sesuatu, hingga merasa takut, bahkan untuk menarik nafas sejenak.

Ini yang membuat saya khawatir, bahkan kekhawatiran pada diri saya sendiri. Ketika kita merasa dituntut untuk bisa meraih impian – impian kita dalam waktu dekat, sehingga kita tak lagi butuh untuk istirahat sejenak maupun mengambil nafas sejenak. Namun pada akhirnyakita akan merasa stress maupun depresi berat, hingga terjatuh kemudian. Jadi, diam sejenak sebenarnya tak apa – apa. Bisa jadi momen tersebut bisa kita jadikan sebagai waktu beristirahat dan juga refleksi sejenak, apakah kita berada di lintasan yang sama dengan tujuan awal kita atau malah telah berpindah pada lintasan yang lain.

Yang kau miliki adalah SEMANGAT MASA MUDA. Maka mulailah perjalananmu sekarang!

Karena saat masa muda kita masih memiliki fisik yang kuat dengan banyaknya kesempatan. Maka teruslah hidupkan semangat masa muda kita, jika sempat jatuh, mari bangkit kembali; jika sempat berhenti, mari berjalan lagi!

Bekasi, 12 Agustus 2017

-Je-

Grit : the power of passion and perseverance by Angela Lee Duckworth

I try to write and resume what I have seen, heard, and also learnt from TED channel just to exercise my listening and writing ability in English. The first writing is about ‘Grit’ which is delivered by Angela Lee Duckwort on May 9, 2013. Let me call her, Angela. She left her high-flying job in consulting, just to take a job as math teacher in a public middle high school in New York. Then she went graduate school to become a psychologist.

What she found was ‘grit’ as predictor of success. As commonly doing by many people in measuring the best children, student, or person from their IQ; Angela disagreed with it. On her studying kids and adult, she and team went to West Point Military Academy, they tried to predict which cadets would stay in military training and which one would be dropped out. She also went to the national spelling bee competition to predict which children would advance farthest in competition. She ever studied about who are teacher would stay teaching until the end of school year. She went to the company to see which of those salespeople is going to keep their jobs and which is going to earn the most money.

In all study cases she had. She said that one characteristic emerged as significant predictor of success was not the social intelligence, not as physic have good look nor great health, and it was not also the IQ. The one characteristic was GRIT. Grit is passion and perseverance for very long-term goals. Grit is having stamina. Grit is sticking with our future day in and day out. It’s not just for the week nor month, but for years. Grit is working really hard to make our future become reality. Angela also said that grit is living life like it is a marathon, not a sprint.

When parents and teachers asked her, “how do i build grit in kids?”, then the answer was she didn’t know exactly. But what she knew was talent didn’t make us gritty. What she has ever heard in building grit in kids is something called ‘growth mindset’. That idea developed at Stanford University by Carol Dweck. He studied when the kids have a challenges, they are much more likely to preserve when they fail, because they don’t believe that failure is a permanent condition. So growth mindset is a great idea for building grit. For us to build grit, we have to be willing to fail, we have to be willing wrong to start over again with lessons learned.

Sampai Jumpa 30 Laskar ‘Bocil’ Kamawakan

Di awal minggu ke-6 pelatihan intensif CPM XII, di sesi sharing dengan pendamping daerah, aku ditunjukkan sebuah file yang berisi data hasil assessment sekolah dimana aku beserta rekan-rekanku akan ditempatkan. Aku merasa sangat tercerahkan dengan mendapatkan lebih banyak gambaran terkait seperti apa kondisi desa dan sekolah penempatanku nanti selama setahun ke depan.

Aku akan bertugas selama setahun di SD Negeri Kamawakan. Letaknya berada di Desa Kamawakan, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Berjarak sekitar 40 KM dari Kandangan yang merupakan ibukota kabupaten di Hulu Sungai Selatan. Di SD Negeri Kamawakan nanti aku akan berjumpa dengan 30 orang murid-muridku di sana. Ya, dari 6 kelas di sekolah kami hanya memiliki 30 orang murid saja. Dengan letak geografis yang cukup menantang karena berada di wilayah pegunungan dan hanya bisa diakses dengan menggunakan kendaraan roda dua menjadikan sekolah ini membuatku semakin merasa tertantang.

Walau dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang ada, entah kenapa aku justru memiliki ambisi dan semangat besar untuk bisa mengenalkan sekolahku ini ke khalayak ramai. Aku ingin agar lebih banyak orang bisa mengenal sekolah tempat aku mengajar nanti dengan segala cerita luar biasa di dalamnya. Aku bercita-cita supaya ada di antara ke-30 laskar ‘bocil’-ku nanti yang akan mampu menaruhkan namanya di catatan prestasi siswa SD se-Kalimantan Selatan.

Untuk laskar ‘bocil’-ku di Kamawakan, dengan segala ketulusan hati aku akan datang. Semoga kalian menerimaku dengan lapang dan senang. Semoga ada cerita-cerita luar biasa dari kalian yang bisa ku bagi dan ku kenang. Hingga banyak orang sadar bahwa keterbatasan tidak akan selalu menjadi sebuah penghalang. Penghalang untuk terus berjuang dan menjadi seorang pemenang.